Image

Senyum dan bola matanya terus melekat dalam hatiku. Sosok pribadi yang sangat mencintaiku apa adanya. Dalam bingkai foto yang berukuran 15 x 20 cm, kami tertawa bersama. Namun sayang, memoriku sangat terbatas, tak bisa mengingatnya dua puluh satu silam. Saat itu aku berusia dua tahun dan bertingkah lincah. Pada masa perkembangan usia balitaku, Ayah sudah kembali kepada Sang Pencipta. Sejak itu, tidak ada lagi sosok yang aku panggil dengan sebutan ‘Ayah’. Aku adalah anak gadis satu-satunya milik Ayah. Ayahku adalah suami kedua ibuku. Bagiku, Ayah adalah sosok teladan setelah kedudukan Rasulullah SAW.

Kadang, aku pernah berinteraksi dengan Ayah melalui sebait puisi. Aku luapkan rasa kerinduan untuk bertemu. Aku singkirkan rasa sedihku hanya untuk tersenyum, melihat harapan baru. Aku tak boleh bersikap manja. Aku sudah menginjak masa dewasa. Ayah pasti bangga dengan sikap budi pekertiku. Aku termasuk muslimah yang rajin menunaikan shalat lima waktu. Sehabis shalat, Ayah pasti mendengar do’a-do’a yang aku lantunkan. Sebuah amal yang tak pernah terputus sampai kematian menjemputku. Aku ingin menjadi putri yang berbakti untuknya, putri yang sholehah untuknya.

Kehadiran Ayah baru dalam kehidupanku membuatku tak mengenal sosok Ayah sebenarnya. Bagiku, sosok Ayah itu adalah bijaksana, berwawasan luas, sangat baik hatinya dan selalu dekat dengan Alloh SWT. Aku tak mendapatkan keteladanan yang baik dari Ayah baruku. Sikapnya yang keras dan otoriter, mudah tersinggung, dan sering berujar kata-kata kasar, membuatku sangat tidak nyaman. Namun demikian, ada satu senti kebahagiaan yang masih terekam dalam memoriku bersamanya.

Sewaktu masih kelas 6 SD, Ayah baruku menemaniku ke mana-pun aku pergi. Entah ke perkemahan, ke rumah teman, ataupun pergi ke sekolah. Sebetulnya, di balik sifat kerasnya, ia memiliki sifat penyayang terhadap anak kecil. Namun, aku tak begitu paham dengan sifat Ayah baruku. Selama ini, aku tak bisa juga memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’. Sebutan itu sangat berat untukku. Bagiku, Ayahku adalah Ayah satu-satunya di muka bumi ini. Tak ada yang tergantikan oleh siapapun jua. Semua orang tak pernah memahami perasaanku. Haruskah aku katakan perasaanku sebenarnya?

Status Ayah baruku yang single dan mendapatkan ibuku yang janda, tak membuat dirinya goyah untuk menikah. Sayang, ibuku tak terlalu memperhatikan kesholehannya. Alhasil, ibu tak sering berbahagia. Namun demikian, Ibu tak mau bercerai untuk kedua kalinya. Pelajaran rumah tangganya bersama suaminya yang pertama dijadikan hal pilu terakhir untuknya. Aku berusaha untuk memahami perasaan ibuku. Ibu masih mencintai suaminya yang sekarang.

Selama beliau menjadi suami ibuku, aku tak pernah melupakan jasa-jasanya membesarkanku. Berkat ketelatenannya, Aku berhasil mengayuh sepeda motor dengan lincah. Berpetualangan ke berbagai tempat dengan ilmu bermanfaat miliknya. Aku tak pernah melupakan jasanya yang berharga itu. Karena tak mudah belajar berkendara dalam waktu yang singkat. Beliau sangat setia menemani proses belajarku hingga sempurna. Kadang aku sering berkaca-kaca saat mengenang masa itu.

Aku sudah menyatakan kebenaran, namun beliau tak segera mendapatkan nikmat iman dalam hatinya. Hatinya masih beku untuk menerima ajaran Islam secara kaffah. Beliau belum mendirikan tiang agama dengan sempurna. Beliau bahkan pernah terjebak dalam permainan nomor yang fana, merusak akidahnya perlahan demi perlahan. Pintu hatinya masih tertutup untuk menerima hidayah. Kejengkelanku semakin bertambah. Kebencianku terhadap sikapnya mengundang amarah tanpa arah. Aku gagal mengatur emosiku. Kami putuskan untuk mendiamkan diri masing-masing. Orientasi jalan pikiran kami sudah berbeda, tak bertemu muaranya. Aku pun benar-benar pasrah, aku benar-benar mengharapkan dirinya untuk berubah.

Adakah yang salah dengan sikapku, Yah?

Apakah Aku bersalah karena tak memanggilnya dengan sebutan Ayah?

Ajari aku tentang makna kesabaran dengan ikhtiar yang benar..

Ajari aku tentang makna keberanian untuk mengakui kesalahan..

Ajari aku tentang makna ketulusan untuk memaafkan kesalahan..

Ajari aku tentang CINTA yang tak pamrih untuk dikasihi..

Ajari aku tentang IMAN yang tak kan luntur oleh kemaksiatan..

Aku yang ingin dirinya berubah tak mungkin terwujud jika sikapku memang benar-benar belum empati terhadapnya, masih ada rasa benci yang tersisa, masih ada rasa sakit tak terperi, dan hal yang paling penting; belum merasa ikhlas untuk menerimanya sebagai Ayah, suami dari Ibuku.

Aku perlu belajar banyak dari kisah Nabi Ibrahim yang tak pernah berhenti berdakwah saat Ayahnya masih ingkar kepada Alloh SWT. Ataupun belajar dari kisah Nabi Nuh yang tak pernah mengeluh atas kekafiran isteri dan anaknya. Selain itu, belajar dari kisah Rasulullah SAW yang tak pernah berputus asa untuk berharap kepada pamannya, Abu Tholib untuk memeluk Islam. Mereka melandaskan spirit dakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

“Serulah (manusia) itu kepada Jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” [QS 16, An Nahl: 125]

Rabbirhamhumaa kamaa robbayanii shogiira..”Wahai Tuhanku, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku aku pada waktu kecil.” [QS 17, Al Isra’: 24]

*Dari hamba Alloh yang masih terus berharap..

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s