بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Anak kecil berlomba menjadi yang terbaik dengan cara mengembangkan potensi dirinya,
sedangkan banyak orang dewasa berlomba menjadi yang terbaik dengan cara menjatuhkan saingannya.
Itulah mengapa anak kecil cepat berdamai dengan sesamanya..(Notes from Kocakres today)”

Aku kembali terusik. Sudah tiga kali reminder email dari IM menanyakan kembali komitmenku. Namun demikian, keputusanku sudah bulat. Insya Alloh, hal ini sudah merupakan final decision yang pada akhirnya membuatku pilu. Kesempatan itu aku buang sia-sia. Semula memang aku tak bisa memaksakan pendapat. Semula aku memang tak bisa mempertahankan apa yang aku impikan selama ini. Rasanya begitu sesak. Akankah kesempatan menjadi guru menghampiri lagi kepadaku?

Di balik keputusanku itu, aku masih yakin atas satu harapan. Aku berharap hal ini adalah salah satu skenario terbaik dari-Nya. Harapan-harapan, meskipun ukurannya kecil, tak boleh terlepas dari semangat orang beriman. Sungguh, aku tak ingin tergolong orang-orang yang berputus asa. Sungguh, aku-pun tak ingin menjadi golongan orang durhaka karena tak mendapatkan restu orang tua. Aku sangat mencintai Ibuku. Jadi bagaimana mungkin aku meninggalkannya, dan memaksakan impianku menjadi guru di daerah terpencil. Aih, ternyata rasanya begitu berat. Dalam detik ini, aku belajar tentang makna keikhlasan dan meluruskan niat untuk meraih mimpi demi Keridhoan-Nya.

Aku semakin belajar dari masa lalu. Tak ada keberhasilan atau kesuksesan yang diperoleh dengan proses instan. Semuanya butuh proses pembelajaran. Kadang perlu jatuh berkali-kali hingga sakit tak terperi. Mengalami sebuah kegagalan adalah suatu hal yang WAJAR karena kegagalan sepaket dengan kesuksesan. Aku tak boleh takut untuk bermimpi. Aku masih bisa eksis untuk menjadi tenaga pengajar di masa depan usai masa kontrak kerjaku purna. Optimasasi perlu disematkan agar hati tak menjadi layu karenanya.

Kesempatan kedua yang aku siakan di hari ini adalah kesempatan untuk menulis di lomba #TulisNusantara. Empat hari sebelumnya, aku yakin untuk membuat satu cerita pendek namun ternyata di luar kondisi, aku tak bisa menulis sebait pun cerita itu. Pusing. Penat. Bingung. Entah harus berbuat apa. Kelelahan menjadi faktor penghambat yang dominan. Aku tak bisa berkonsentrasi penuh saat harus memulai cerita. Kondisi ekstrim seperti itu seharusnya bisa diantisipasi jika aku menerima info lomba jauh-jauh dari deadline. Ternyata, aku tak bisa berkerja normal saat terdesak dan terkejar deadline. Miris rasanya….

Kesempatan ketiga yang menjadi moment bahagia adalah aku bisa menulis surat untuk sahabat pena anak-anak didik “Mister Master” di Desa Waya. Aku lengkapi beberapa point inspirasi dari beberapa sahabatku  yang menitipkan pesan untuk mereka. Alhamdulillah, surat dan paketan buku anak-anak sudah selesai di-packing namun baru bisa dikirimkan Senin pagi, Insya Alloh. Di dalam kesempatan itu, Mister Master menitipkan buku Anantya PT tentang roman Jejak Langkah. Hyum, roman klasik tentang sejarah yang sepintas membuatku penat karena halamannya begitu tebal. Daya minatnya untuk membaca memang begitu besar, meski terdampar di pulau antah berantah.

Kesempatan keempat yang membuatku kembali semangat adalah aku bisa berbagi ilmu dengan adik-adik mentoring SMA. Walaupun hanya sebagai pengganti sementara, rasa kebahagiaan terluapkan seusai vaccum mengisi lingkaran kecil. Aku sadari, mungkin gaya penyampaianku masih jauh dikatakan sempurna. Aku masih belum berhasil mendapatkan perhatian mereka  Bahkan, aku merasa malu saat melihat hapalan mereka sudah jauh (ada yang sudah hapalan Juz ke-28). Di sinilah aku masih belajar dari mereka untuk menata semangat hapalan dan muraja’ah lagi.

Kesempatan kelima yang tak aku siakan adalah riyadhoh (olahraga) pagi bersama teman-teman LQ. Rasanya pikiran kembali segar dan sukses membuat badanku bugar. Sebagai anak kesehatan, seharusnya aku bisa meluangkan waktu untuk berolahraga setiap harinya, meskipun hanya sebentar. Namun sayang, kesempatan olahraga selalu saja tertunda karena kesibukan agenda lainnya.

Insya Alloh, agenda besok bisa lebih bersemangat dan membuatku terlahir kembali. (Ciee..) Yap! Tak ada kata jenuh untuk semua hambatan yang terjadi. Tetap sehat, kuat, dan semangat, Ania ^_^

An Maharani Bluepen

(ditulis langsung di badan pos)

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

2 responses »

  1. Daftar pengajar muda, Mbak? Aku juga menyerah karena belum lulus😥

    • udah daftar sekali dulu pas Angkatan III, tapi ga lolos tahap awal. Trus, mau daftar lagi di angkatan VI, tapi tetap saja tidak diperbolehkan ma ortu untuk ikut. Hiks-hiks..Yap, Alloh Maha Mengetahui skenario yang terbaik buat kitaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s