Catatan Inspirasi dari Doktor di Jepang

19 Desember 2012. Hari terinspirasi di bulan ini yang takkan terlupakan. Perjalanan dinas di Salatiga yang berlangsung tiga hari (18-20 Des), memberikan kesempatan kepadaku untuk berkunjung ke rumah sensei Andy, seorang lulusan S3 dari Universitas Hiroshima Jepang. Dari silaturahiim itulah, aku bertemu dengan isteri beliau, mbak Efrita (Pipit) yang ku kenal dari Fb juga. Dunia maya memang terlihat begitu luas, tapi menjadi sempit tatkala terjadi pertemuan di dunia nyata. Benar-benar silaturahiim yang meninggalkan jejak kebahagiaan tersendiri.

anak-anak lucu sensei

dari kanan ke kiri atas: Hibban, Tutu, dan Ali

Sensei Andy memiliki putra-putri kecil yang sangat menggemaskan. Sebut saja M. Hibban, anak pertama beliau yang baru memasuki kelas satu SD. Adik perempuannya yang selisih tiga tahun, Fatiha yang mendapatkan panggilan Si “Tutu” tak berhenti membuatku tersenyum riang. Terakhir, putra beliau yang baru berumur dua bulan, Ali Nuha yang tak kalah heboh menyambut kedatanganku. Aku pun tak menduga bahwa sensei Andy bersama keluarganya berkenan menjemputku di hotel GWH, tempatku menginap. Padahal, aku sudah diberi alamat beliau beserta ancer-ancernya. Sebelumnya, kami sudah berkomunikasi lewat chat Fb. Kemudian Sensei bertanya kapan kepastian waktu silaturahiimku. Aku bilang waktu senja seusai pelatihan di RS selesai. Alhamdulillah, saat itu Sensei ada waktu luang dan aku memohon izin kepada bosku untuk pergi silaturahiim ke rumah beliau. Senang rasanyaa memiliki kesempatan untuk bersilaturahiim ke sahabat dunia maya. Apalagi beliau adalah seorang inspirator akademisi di dunia pendidikan Indonesia. Penampilannya sangat low profile, mencerminkan tenaga pendidik yang rendah hati namun profesional. Ya. Beliau mendapatkan gelar doktor saat berusia 29 tahun. Di balik kesuksesannya, terdapat alur perjalanan dan perjuangan yang sangat berliku. Beliau mampu mengubah persepsi dan membangun sikap optimis di balik keterbatasan yang dimiliki. Catatan inspirasi beliau dapat disaksikan lewat link berikut:

Sisi Lain dari Sebuah Perjalanan Akademik (Part 1-6, masih bersambung lagi kata beliau:)

Salatiga. Kota kecil kelahiran beliau menjadi tempat muara seusai menamatkan S2 – S3 di Universitas Hiroshima. Oh ya, sebelumnya beliau bersekolah S1 di Universitas Indonesia, mengambil fakultas sastra, jurusan bahasa Jepang. Begitu pula dengan mbak Pipit, beliau mengambil fakultas yang sama dengan sang suami namun dengan jurusan yang berbeda, bahasa Arab. Wah, satu keluarga dengan akulturasi bahasa yang kereen, yah. Paduan Japanese dan Arabic! Karena sudah terpapar di negeri Jepang,  Hibban sudah lancar berbahasa Inggris sejak kecil. Sang putra juga fasih menulis dan mengenal kosakata bahasa Inggris dengan baik namun sayang, agak kesulitan untuk memahami bahasa lokal daerah (bahasa Jawa). Meski demikian, senyum lebarnya selalu mencerahkan. Aku jadi teringat dengan para keponakan di luar kota sana ^_^

Mbali Negara, Mbangun Kutha lan Desa.

Izinkanlah saat ini saya meminjam istilah dari Gurbenur Jateng, Bibit Waluyo, dengan sedikit revisi. Alangkah beruntungnya, jika para akademisi terdidik Indonesia mau kembali ke tanah air dan mau membangun pendidikan di negeri sendiri. Dengan demikian, ilmu yang dimiliki semakin bermanfaat untuk kemajuan negeri. Sudah saatnya pemerintah memberdayakan keberadaan lulusan-lulusan luar negeri. Mereka merupakan SDM yang tak ternilai dan patut untuk dihargai. Dengan alasan cinta itulah, Sensei Andy mengambil keputusan untuk kembali ke tanah air. Beliau juga menimbangkan sisi penting untuk pendidikan anaknya di masa depan kelak. Maklum, norma tanah air amat berbeda dari norma negeri sakura. Barangkali, pergaulan remaja di sana lebih sulit untuk terkontrol. Di sini, pendidikan anak menjadi prioritas utama Sensei. Beliau sangat perhatian dengan keluarganya meskipun berkerja dengan nglaju Salatiga-Semarang. Saat ini beliau berprofesi sebagai dosen di Udinus, jurusan Bahasa Jepang.

Jangan pernah berhenti bermimpi, karena semuanya diawali dari mimpi dan angan-angan.

Itulah deretan kata-kata motivasi dari sensei untuk sahabat pena, anak-anak di Halmahera Selatan. Yap, pesan inspirasi yang bertenaga ini semoga menular juga ke para pembaca semua. Ohya, sensei juga amat gemar membaca, lho. Beliau mendirikan taman bacaan kecil di depan rumah untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar. Konon, selama berkuliah di Jepang beliau juga berkerja sebagai pustakawan di sana. Barakallah, sensei.. Semoga ilmunya semakin barokah.

'makanan' sehari-hari sensei

‘makanan’ sehari-hari sensei

Bacalah, dan kau akan berkeliling dunia :)

Bacalah, dan kau akan berkeliling dunia🙂

An Maharani Bluepen

10 Safar 1434 Hijriyah

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s