Catatan Akhir Tahun Part 1

Penantian Panjang (23/12)

Aku dan keluarga nenekku. Ada kakek Obin (suami nenek kedua), nenek amah dan uwak cucu :)

Aku dan keluarga nenekku. Ada kakek Obin (suami nenek kedua), nenek amah dan uwak cucu🙂

Imajinasiku melonjak tinggi. Melaju bersama putaran waktu. Melewati sebuah perjalanan yang menentu. Ada tujuan, ada harapan yang masih terbentang. Biarkanlah senja itu pergi dengan senyumnya. Adzan maghrib menyapu malam dengan rinai hujan yang menyejukkan. Biarkan kami pergi meninggalkan kota lunpia dengan aura kebahagiaan. Menantikan kehadiran saudara jauh di Garut dan Bandung. Yap, ini bukanlah imajinasi. Aku berhasil mengambil cuti panjang seminggu kini.

Bagi sebagian orang, mungkin menanti adalah perkerjaan yang membosankan. Menurutku, rasa kebosanan itu bisa diganti dengan aktivitas yang ringan sekaligus menyejukkan, yakni membaca Al Qur’an. Tak terasa membaca empat surat cinta-Nya di pemberhentian terminal bus Nusantara, membuatku semakin merenung. Dua jam yang menjemukan bagi ibuku karena bus tak kunjung datang. Pada akhirnya penantian itu sirna ketika nomor bus kami masuk ke terminal. Satu hal yang aku sesalkan adalah aku sudah terlanjur shalat jamak takdim pas adzan Maghrib. Kalo tahu kondisinya begini, lebih baik sholat per waktu saja lebih khusyuk, kan.

Aku tak bisa membayangkan ketika penantian itu diibaratkan dengan penantian yaumul akhir kelak. Sejauh mana kita bersabar untuk ‘terpanggil’ ke muara syurga-Nya. Tentunya penantian itu lebih lama daripada penantian dunia. Amal sholehlah yang menjadi tiket ekspres masuk syurga.

Sepanjang perjalanan hawa ngantuk menyerangku hingga terlelap. Meski pada akhirnya aku terbangun dan terjaga dalam sekian detik kemudian menguap beberapa kali. Energiku harus cukup tersimpan untuk menyambut perjalanan esok pagi.

Harga Sebuah Kesabaran (24/12)

banjir kini sudah merambat ke daerah dataran cekungan Bandung-Garut. Efek banjir dan kemacetan sering terjadi pada saat musim liburan. Maka, bersabar-sabarlah ;)

Banjir kini sudah merambat ke daerah dataran cekungan Bandung-Garut. Efek banjir dan kemacetan sering terjadi pada saat musim liburan. Maka, bersabar-sabarlah😉

Dawa ususe, segar jembarane. Bahasa sundanya apa, teh? #super duper crowded Bdg-Grt

Itulah gambaran status fbku yang langsung terpancar dari mini handphone. Anggap saja sebagai sarana pelampiasan kejenuhan akibat kemacetan luar biasa antara jalanan raya Bandung-Garut. Super Macet Total! Sebelumnya, perjalanan Semarang-Bandung memakan waktu delapan jam (tiba di Bandung shubuh jam 5) kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Garut selama 6 jam. Perjalanan normal hanya memakan waktu dua jam saja. Tapi perjalanan kali ini memang benar-benar kelewatan. Gemas rasanyaa. ^_^ Yaa. Beginilah euforia mudik yang sudah lama tak ku rasakan. Terakhir kali ku silaturahiim ke tempat Ayah di Garut adalah dua tahun lalu. Saat itu belum musim liburan kayak gini. Jadinya, arus lalu lintas aman terkendali.

Ternyata fenomena ‘banjir’ dan momentum kendaraan H-1 Natalan menjadi biang kerok kemacetan yang terjadi saat itu. Hyum, emosiku terkendali dengan menghabiskan buku bacaan yang ku bawa dari rumah; Psiko Harmoni Rumah Tangga. Hehehe..Cukup pusing juga mencerna kalimat per kalimat. Bawaannya psikologi terus.. Hoho.. Tapi sangat bermanfaat untuk mengenal calon pasangan ke depannya (padahal, belum tahu calonnya siapa) ^_^ Ada quote menarik yang ku ambil dari buku mungil karangan Izzatul Jannah;

“Pernikahan adalah universitas sepanjang hayat yang di dalamnya terdiri dari mata kuliah yang tak pernah usai SKS-nya. Mata kuliah kesabaran, mata kuliah ikhtiar, mata kuliah tawakal, mata kuliah khusnudzan, mata kuliah istiqomah, dan sebagainya. Ini akan terjadi pada semua orang, tanpa membedakan apakah mereka mencintai pasangannya sebelum menikah atau berharap cinta akan bersemi setelah menikah.”

Masya Alloh, kata-kata yang indah, yah. Bab-bab selanjutnya mengandung penuh makna. Intinya adalah bagaimana cara kita mengenal pribadi sendiri dan pasangan kita ke depan agar tercipta keharmonisan rumah tangga.🙂

Orang-orang memandang aneh kebiasaan membacaku. Aku mulai membatin prasangka mereka, “Mbak-mbak, dalam kondisi panas dan sesak kayak gini masih sempat membaca di dalam bus?” Konsentrasiku berhenti tatkala melewati kawasan banjir Rancaekek. Bus berjalan sempoyongan seusai ganti ban dua kali. Alhamdulillah, bus berhasil melewati medan banjir dengan lihainya. Sang sopir sendiri begitu rileks saat melewati jalan lapang.

Tak lama kemudian, aku dan mama tiba di rumah nenek. Hyum, suasana pasar masih seramai dulu, jalan-jalanan kota tak sebegitu bising, udara sejuk mulai merasuk kulit. Selamat datang di Kota Garut, An. Mungkin itulah sapaan almarhum nenek dan Ayah setiba kami di sana. ^_^

Sehangat Mentari Pagi (25/12)

Garut Bangkit. Garut Berprestasi.

Semboyan kota yang membuat semangat berlipat ganda. Segala kenanganmu pasti bermula di sini, ya, Yah. Aih, senang rasanya menginjakkan kaki di tanahmu ini. Meski tanpa hadirmu, izinkan aku untuk selalu mencintaimu walau dimensi dunia kita berbeda🙂 Hari ini aku menengokmu di tempat peristirahatanmu yang terakhir. Aku lihat banyak semak-semak belukar yang tumbuh lebat di pusaramu. Gerombolan anak-anak kecil turut membersihkan tempatmu, Yah. Tak lupa kami berdo’a untukmu sekaligus untuk nenek yang tak jauh dari tempatmu. Yap. Ikatan do’a pasti tak akan pernah terlepas meski aku tak rajin mengunjungimu setiap tahun di tempatmu ini. Alloh pasti Maha Mendengar do’a, kan, Yah. Aku begitu mencintaimu….

Anak-anak kecil yang bersemangat mengais rezeki di pemakaman. Senyum mereka begitu hangat, Yah. ^_^

Anak-anak kecil yang bersemangat mengais rezeki di pemakaman. Kuburan Ayah (kiri), kuburan nenek (kanan). Senyum mereka begitu hangat, yah. ^_^

Pagi sebelumnya, An bereuni dengan penulis ternama, mas Kun Geia alias mas Gerry Nugraha. Beliau barusan nikah minggu yang lalu, Yah. Kami bertemu dengan perencanaan yang tak sengaja. Hadir di tanah Garut secara hampir bersamaan. Setelah ditelusuri, beliau ternyata asli orang Garut, Yah. Semangat menulisnya patut diancungi jempol karena melahirkan karya novel ‘The Lost Java’, sebuah novel ilmiah yang berlandaskan sisi konspirasi. Bahkan dalam pertemuan itu, aku dikasih buah tangan yang cukup menarik, Yah. Buku tentang motivasi menulis yang dibagikan hanya untuk kepentingan tertentu saja. Aih, senangnya. Dalam pertemuan itu juga, aku dan mbak Esti dijamu oleh-oleh empek-empek Palembang buatan isteri dan mertuanya, Yah. Sungguh, pertemuan yang berkesan.

tempat kopdar bareng mas Kun Geia di Masjid Agung Garut. Ternyata, aktivitas hiburan di lapangan alun-alun begitu padat, yah. An memilih untuk mengayuh becak, ada juga yang bersepeda dan naek kambing. Aih, lucunya.. Tak kalah lucu ama keponakan yang dibawa mas Kun Geia :)

Tempat kopdar bareng mas Kun Geia di Masjid Agung Garut. Ternyata, aktivitas hiburan di lapangan alun-alun begitu padat, yah. An memilih untuk mengayuh becak, ada juga yang bersepeda dan naek kambing. Aih, lucunya.. Tak kalah lucu ama keponakan yang dibawa mas Kun Geia🙂

Seusai mengunjungi Ayah, aku, mama, dan uwak cucu berselancar ke Cipanas. Masya Alloh, lagi-lagi aku tak kuasa mengagumi ciptaan-Nya. Berkali-kali aku berkaca di pemandian air panas yang mengandung belerang itu. Ini benar-benar sangat rileks dan menghangatkan! Seluruh kelelahan terasa luluh seketika. Alhamdulillah, dengan kocek 25 ribu, aku dan mama bisa merasakan fasilitas di kamar pemandian air panas (bukan tempat terbuka, loh, yah). Kata uwak cucu, ada lagi fasilitas yang lebih aduhai karena tempatnya strategis dengan letak danau, tetapi harganya juga menohok. Yap! 75 ribu untuk tiap orang. Ya sudahlah, pake harga ekonomi di tempat berbeda saja kalo begitu.

aneka pegunungan di kota Garut. Saking banyaknya, bolehlah, kalo ku bilang Garut ini sebagai 'Swiss of Java' ^_^

aneka pegunungan di kota Garut. Saking banyaknya, bolehlah, kalo ku bilang Garut ini sebagai ‘Swiss of Java’ ^_^ Selain dingin tempatnya, juga kaya akan sumber air panas

Sepanjang perjalanan pulang, aku menikmati pemandangan pegunungan yang terus melaju di pikiranku. Pegunungan apakah ini? Kata mas Gerry, pengalaman serunya adalah mendaki gunung tertinggi di Garut, bernama Gunung Cikuray. Tapi aku tak tahu gunung mana yang dimaksud. Ada juga gunung yang dimaksud dalam cerita TLJ, gunung piramida Sadahurip. Entahlah, aku masih bingung karena ada banyak gunung yang tertancap di kota kecil ini. Maka, boleh, yah. Kalo ku sebut kota ini dengan ‘Swiss of The Java’ ^_^

Sebait Mimpi (26/12)

Menuju terminal Garut, aku dan mama mampir sebentar ke sekolah bersejarah Ayah. Yap! Sekolah Menengah favorit di kota Garut, SMA N 1 yang terletak di jalan Merdeka. Rasanya uraian mimpimu merasuk dalam pikiranku, Yah. Aku jadi semakin bersemangat untuk mengejar mimpi-mimpiku yang belum teraih selama ini.

masa-masa SMA Ayah terajut di sini :)

masa-masa SMA dan TK Ayah terajut di sini🙂

to be continued..

perjalanan masih berlanjut ke kota kembang :) #foto langsung dari jendela bus..

perjalanan masih berlanjut ke kota kembang🙂 #foto langsung dari jendela bus..

An Maharani Bluepen

17 Safar 1434 H

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s