Redha and My Mom

Redha and My Mom

Rabu (26/06) menjadi hari bersejarah buat Redha. Yap! Ini pertama x (kali)-nya motor merah saya mengkonsumsi pertamax. Hihihi.. Alhamdulillah, suara mesin semakin jernih, gerakan Redha juga semakin lincah. Meski dirasakan lebih mahal daripada premium,  saya mengakui: lebih nyaman menggunakan pertamax.

Keputusan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM (21/06), membuat saya banyak berpikir. Selama ini, saya memang belum ngasih solusi apa-apa. Masih terus menggunakan BBM bersubsidi, padahal banyak saudara lain yang lebih berhak menerimanya. Aih, kenaikan BBM memang tak bisa diterima oleh sebagian besar kalangan. Kesusahan lebih banyak dirasakan oleh rakyat kecil karena harus menghadapi kenaikan harga di mana-mana. Harga kebutuhan pokok ikut melambung, berimbas ke semua sektor, termasuk tarif angkot yang mulai naik 15% sejak hari ini (27/06).

Saat perjalanan pulang dinas dari Banyumas (detik-detik sebelum kenaikan BBM), saya melihat antrian panjang BBM di SPBU demi menambah stok BBM. Antrian panjang itu tak hanya dari pengendara motor, tetapi juga dari kalangan mobil mewah. Kesenjangan-pun merajai. Banyak pihak yang melakukan penimbunan sebelum kenaikan harga. Akibatnya, stok BBM tak tercukupi, trus masyarakat kewalahan mencari sumber BBM. Dari kejadian tersebut, yang perlu disalahkan siapa coba? Apakah kita harus menyalahkan hal ini semua kepada pemerintah yang kurang tegas dalam mengambil kebijakan?

Hal yang menjadi pertanyaan buat saya yang belum memahami adalah mengapa sih BBM itu harus disubsidi? Mengapa subsidinya kurang tepat sasaran? Trus, Indonesia kan negeri kaya SDA, salah satunya minyak bumi. Negeri kita juga punya PERTAMINA, yang punya otoritas dalam mengeksplorasi dan mengolah minyak bumi. Mengapa negeri kita harus mengimpor olahan minyak bumi dari luar negeri? Mengapa negeri kita belum bisa mandiri? Ataukah ada kondisi lain yang belum saya ketahui?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam otak saya. Selanjutnya, saya berusaha untuk mencari berbagai informasi yang berkaitan dengannya. Masih teringat percakapan dengan petugas SPBU saat pertama kali mengisi pertamax ke Redha.

An                      : Mas, motornya diisi pertamax, ya. Sori, ni boleh dicampur dengan premium, kan? Kayaknya premiumnya masih tersisa sedikit.

Petugas              : Boleh, ga masalah, mbak. Kan sama-sama bensin.

An                      : Owh, gitu. Kenapa harga pertamax lebih mahal, Mas?

Petugas              : Karena nilai oktan pertamax lebih tinggi daripada premium, Mbak.

An                      : Ok, Mas. Thank’s infonya.

Hehe.. pertanyaan dasar yang saya tanyakan dengan asal. Selanjutnya, saya searching tentang Minyak Bumi, Bensin, Premium, Pertamax, dan Pertamina secara umum.

MINYAK BUMI

Proses pengolahan minyak bumi diawali dengan pencarian minyak bumi. Kalau sudah ketemu sumber minyaknya dan isinya cukup banyak, dilanjutkan dengan pemompaan. Tentunya prosesnya tak hanya dipompa saja, setelah itu masih perlu pemisahan dengan air dan kotoran lainnya. Untuk sumur-sumur yang sudah tua dan hasil minyak sudah menurun, perlu ditambahkan teknologi untuk mengambil sisa-sisa minyak yang masih terperangkap di batu-batuan. Teknologinya disebut Enhanched Oil Recovery bisa dengan penambahan uap panas, cairan surfaktan, gas Karbon Dioksida atau bahan kimia lain.

Kemudian minyak bumi diangkut ke pabrik pengolahan minyak bumi (kilang), disana minyak akan dipisahkan dengan penyulingan I (Distilasi), yang akan menghasilkan 3 produk yaitu Fraksi LPG I, Fraksi Sedang I, dan Fraksi Berat I.

penyulingan minyak bumi

penyulingan minyak bumi

Fraksi LPG dari penyulingan I sebagian masuk reaktor Isomerisasi menjadi Bensin, Sebagian lagi masuk ke reaktor Reforming menjadi bensin dan kondensat.

Fraksi sedang I masuk reaktor hydroteating menjadi minyak tanah, avtur dan minyak diesel/solar.

Lalu Fraksi berat I masuk Alat Penyulingan/Distilasi II menghasilkan Fraksi LPG II, Fraksi Sedang II, dan Fraksi Berat II. Fraksi LPG II inilah yang banyak kita pakai untuk masak di dapur sekarang ini.

Fraksi sedang 2 sebagian masuk reaktor Hidrocracking kemudian menghasilkan minyak tanah, avtur dan minyak diesel/solar.

Fraksi Berat 2 kemudian masuk proses Coking yang menghasilkan dua produk yaitu aspal dan petroleum Coke (petcoke/kokas). Kokas ini juga bisa sebagai bahan bakar padat seperti batu bara.

BENSIN

Bensin diproduksi di kilang minyak. Material yang dipisahkan dari minyak mentah lewat distilasi, belum dapat memenuhi standar bahan bakar untuk mesin-mesin modern. Material ini nantinya akan menjadi campuran hasil akhir. Semua bensin terdiri dari hidrokarbon, dengan atom karbon berjumlah antara 4 sampai 12 (biasanya disebut C4 sampai C12).

Bensin memiliki berbagai nama, tergantung pada produsen dan Oktan. Oktan itu merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan.

Beberapa jenis bensin yang dikenal di Indonesia diantaranya:

Bensin bekerja di dalam mesin pembakaran yang ditemukan oleh Nikolaus Otto. Mesin pembakaran dikenal pula dengan nama Mesin Otto. Cara kerja bensin di dalam mesin pembakaran:

  • Bensin dari tangki masuk ke dalam karburator. Kemudian bercampur dengan udara. Pada mesin modern, peran karburator digantikan oleh sistem injeksi. Sebuah sistem pembakaran baru yang bisa meminimalisir emisi gas buang kendaraan.
  • Campuran bensin dan udara kemudian dimasukkan ke dalam ruang bakar.
  • Selanjutnya, campuran bensin dan udara yang sudah berbentuk gas, ditekan oleh piston hingga mencapai volume yang sangat kecil.
  • Gas ini kemudian dibakar oleh percikan api dari busi.
  • Hasil pembakaran inilah yang menghasilkan tenaga untuk menggerakkan kendaraan.

Dalam kenyataannya, pembakaran gas di dalam mesin tidak berjalan dengan sempurna. Salah satu masalah yang sering muncul adalah “ketukan di dalam mesin”, atau disebut sebagai “mesin ngelitik” atau knocking. Jika dibiarkan, knocking dapat menyebabkan kerusakan pada mesin. Knocking terjadi karena campuran udara dan bahan bakar terbakar secara spontan karena tekanan tinggi di dalam mesin, bukan karena percikan api dari busi.

Penyebab knocking ada beberapa macam, yaitu:

  • Pemakaian bensin yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin.
  • Ruang bakar sudah kotor dan berkerak.
  • Penyetelan pengapian yang kurang tepat

http://id.wikipedia.org/wiki/Bensin

pertamax-plus

PREMIUM

Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Premium merupakan BBM untuk kendaraan bermotor yang paling populer di Indonesia. Premium merupakan BBM dengan oktan atau Research Octane Number (RON) terendah di antara BBM untuk kendaraan bermotor lainnya, yakni hanya 88. Pada umumnya, Premium digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti: mobilsepeda motor, motor tempel, dan lain-lain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol.

Perkembangan harga Premium (mohon dikoreksi jika salah) :

Tanggal Harga
2003 1.810,00
1 Maret 2005 2.400,00
1 Oktober 2005 4.500,00
24 Mei 2008 6.000,00
1 Desember 2008 5.500,00
15 Desember 2008 5.000,00
15 Januari 2009 4.500,00
22 Juni 2013 6.500,00

*Oh ya, saya mendapat informasi bahwa harga premium di pelosok Indonesia jauh lebih mahal karena pasokan di sana sangat terbatas. Kapan, ya, harga premium bisa memenuhi harapan rakyat dan kesenjangan bisa teratasi? Hyum, jika dibandingkan dengan negara lain, harga BBM di Indonesia termasuk lebih terjangkau! (mungkin karena subsidi itu, yah) Apakah ada teman-teman yang memiliki sumber referensi soal ini?

Kelebihan Premium :

Premium di Indonesia dipasarkan oleh Pertamina dengan harga yang relatif murah karena memperoleh subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Kelemahan Premium:

  • Dari sisi lingkungan, Premium masih memiliki kandungan logam berat timbal yang berbahaya bagi kesehatan.
  • Dari sisi teknologi, penggunaan Premium dalam mesin berkompresi tinggi, akan menyebabkan mesin mengalami knocking atau ‘ngelitik’. Sebab, Premium di dalam mesin kendaraan akan terbakar dan meledak tidak sesuai dengan gerakan pistonKnocking menyebabkan tenaga mesin berkurang, sehingga terjadi inefisiensi.
  • Dari sisi finansial, knocking yang berkepanjangan menyebabkan kerusakan piston. Sehingga kendaraan bermotor harus diganti pistonnya.

PERTAMAX

Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina. Pertamax, seperti halnya Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, Pertamax memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Pertamax direkomendasikan untuk kendaraan yang diproduksi setelah tahun1990, terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection (EFI) dan catalytic converters (pengubah katalitik).

Perkembangan Harga Pertamax di Indonesia (mulai Jun’2013) :

Daerah Harga
NAD 10.150
DKI Jakarta 9.250
Banten & Jabar 9.500
Jateng, DIY, Jatim 9700
Bali 9.850
Kalteng 10.150
Gorontalo 10.850
NTT 10.850

*Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pertamax

Keunggulan Pertamax :

  • Bebas timbal.
  • Oktan atau Research Octane Number (RON) yang lebih tinggi dari Premium.
  • Karena memiliki oktan tinggi, maka Pertamax bisa menerima tekanan pada mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan Pertamax lebih maksimal, karena BBM digunakan secara optimal. Sedangkan pada mesin yang menggunakan Premium, BBM terbakar dan meledak, tidak sesuai dengan gerakan piston. Gejala inilah yang dikenal dengan ‘knocking’ atau mesin ‘ngelitik’.

Kelemahan Pertamax:

Karena memiliki nilai oktan yang lebih tinggi, harga pertamax lebih mahal daripada premium.

PERTAMINA

PT Pertamina (Persero) (dahulu bernama Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara) adalah sebuah BUMNyang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia.

Pertamina pernah mempunyai monopoli pendirian SPBU di Indonesia, namun monopoli tersebut telah dihapuskan pemerintah pada tahun 2001. Perusahaan ini juga mengoperasikan 7 kilang minyak dengan kapasitas total 1.051,7 MBSD, pabrik petrokimia dengan kapasitas total 1.507.950 ton per tahun dan pabrik LPG dengan kapasitas total 102,3 juta ton per tahun.

Pertamina adalah hasil gabungan dari perusahaan Pertamin dengan Permina yang didirikan pada tanggal 10 Desember 1957. Penggabungan ini terjadi pada 1968.[1] Direktur utama (Dirut) yang menjabat saat ini adalah Karen Agustiawan yang dilantik oleh Menneg BUMN Syofan Djalil pada 5 Februari 2009 menggantikan Dirut yang lama Ari Hernanto Soemarno. Pelantikan Karen Agustiawan ini mencatat sejarah penting karena ia menjadi wanita pertama yang berhasil menduduki posisi puncak di perusahaan BUMN terbesar milik Indonesia.

Kegiatan Pertamina dalam menyelenggarakan usaha di bidang energi dan petrokimia, terbagi ke dalam sektor Hulu dan Hilir, serta ditunjang oleh kegiatan anak-anak perusahaan dan perusahaan patungan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pertamina\

pertaminaBRIGADE 200 K

Pada senin lalu, saya membaca ulasan dari catatan Pak Dahlan Iskan, Pekerjaan Besar Setelah Kenaikan Harga BBM (http://dahlaniskan.wordpress.com/2013/06/24/pekerjaan-besar-setelah-kenaikan-harga-bbm/#comments

Dari catatan beliau, saya mengambil informasi bahwa Pertamina memiliki inovasi untuk meluncurkan Brigade 200K, yang dalam sehari bisa memproduksi minyak 200.000 barel. Dengan Brigade 200K Pertamina akan menengok kembali sumur-sumur lamanya. Pertamina memiliki ribuan sumur-sumur tua yang dikendalikan melalui teknologi Belanda. PERTAMINA akan bisa menjawab, mengapa sumur-sumur itu hasilnya tidak bisa maksimal dan bagaimana cara meningkatkannya.

Oh ya, dalam peluncuran Brigade 200K tersebut, diperoleh dengan proses izin yang berbelit (s/d 280 izin!). Ternyata masalah perizinan menjadi momok permasalahan di negeri ini. Akankah teknologi Brigade 200 K bisa menjadi solusi jitu dalam menangani permasalahan kebijakan energi di Indonesia? Harapan Indonesia untuk bisa menjadi negara mandiri dan sejahtera berada di pundak kita semua. Tentunya melalui hemat energi yang dimulai dari diri sendiri😀

An Maharani Bluepen

27 Juni 2013

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

2 responses »

  1. kalo kita terus tergantung terhadap pasokan minyak bumi secara otomatis kita akan sulit menghindar dari fluktuasi harga minyak dunia, klo solusinya sebenarnya lebih memanfaatkan konversi energi seperti panas bumi dan bebrpa pengembangan lainnya, karena hal tersebut mampu melepaskan kita pengaruh harga minyak dunia, walaupun memang mungkin biaya awalny akan sangat tinggi dlm pengembangan hal tersebut

    • berarti selama kita menggunakan minyak bumi, kita harus menyesuaikan harga minyak bumi dunia, Lan?
      padahal kondisi negara kita tidak bisa disamakan dengan negara yang berpenghasilan tinggi..
      >,<
      rasanya kurang adil kalau sebagai negara penghasil minyak bumi namun belum bisa mengolahnya secara mandiri dan menjangkau semua lapisan masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s