Jika sesuatu sudah ditakdirkan Allah, maka sesuatu yang kita anggap tidak mungkin terjadi bisa saja menjadi kehendak Allah. Termasuk, kejadian tgl. 21 Ramadhan lalu. Badanku lagi-lagi ngedrop dan bersuhu tinggi. Semalaman aku benar-benar tak berdaya untuk berangkat ke masjid untuk shalat terawih berjama’ah. Apa boleh buat, aku nikmati waktu istirahat untuk memulihkan badan dan pikiranku. Alhamdulillah, ada mama yang senantiasa merawatku. Di saat seperti itu, aku tak merasa yakin untuk bertemu denganmu esok hari. Lalu, aku mengingat keinginan yang kusampaikan minggu lalu.

“Bolehkah aku belajar Al Qur’an denganmu?”

Kau menjawabnya tanpa ragu dan memberikan waktu luang kepadaku untuk mempelajari Al Qur’an lebih dalam. Namun aku sedikit kecewa saat mengetahui badanku semalaman tak ikut mendukung keinginanku untuk bertemu denganmu. Aku ingin menyampaikan rasa kekhawatiranku bahwa aku tak bisa berangkat dalam kondisi sakit seperti itu. Aku ingin mengirimkan tanda pesan singkat. Namun aku tahan sampai sahur tiba.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah membangunkanku sepertiga malam. Tenagaku terasa pulih kembali. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Udara pagi-pagi buta itu menusuk tulangku. Semula, hawa ngantuk masih bisa kutahan sampai selesai shalat lail. Namun entah kenapa, aku terlelap kembali dalam hamparan sajadah biru.

Kring.. kring.. kring..

Aku terbangun lagi jam 3 dini hari. Aku merasa badanku lebih bugar dari sebelumnya. Menuntaskan sahur lalu ‘memaksa diri’ untuk menuju masjid agar aku tak sakit lagi. Aku kencangkan semangat pagi pada diriku saat itu, “Ayo, An, keep SKS, ya! Sehat, Kuat, Semangat!”

sabit ramadhan 1434 H

sabit ramadhan 1434 H

Di taman langit, kumenatap bulan sabit yang ditemani taburan bintang. Masya Allah, benar-benar pemandangan fajar yang menyenangkan. Aku merasa kembali bersemangat, dan merasa yakin aku bisa bertemu denganmu dan melaksanakan i’tikaf bersama.

Senja di Batas Kota

Kondisi jalanan yang macet dan tak beraturan, tetap meneguhkan hatiku untuk menuju tempatmu. Hey, sepanjang jalan itu mengembalikan nostalgiaku enam tahun lalu; saat aku tertatih mengikuti tes SPMB di Universitasmu. Kini, lubang jalan menganga lebar, aspal-aspal mulai terkikis sampai tepi jalan. Semakin jauh, Redha harus berhati-hati menghadapi liku-liku jalan yang menanjak tajam. Celakanya, aku sudah lupa menuju kampusmu. Hehe.. Alhamdulillah, ada papan jalan sebagai petunjuk arahku. Alhamdulillah, aku berhasil menemukan gerbang utama kampusmu.

Doc. An: Gerbang Kampus

Doc. An: Gerbang Kampus

Saat masuk, kumerasa tersesat di hutan belantara. Setiap mata memandang selalu ada pohon-pohon atau tumbuhan hijau yang sangat rimbun. Rupanya, kampusmu sekarang menjadi zona hijau yang patut ditiru oleh kampus-kampus di Kota Semarang. Benar-benar asri dan menyejukkan mata! Rasa kebingunganku terasa meluap begitu aja. Aku memerintahkan Redha untuk lurus saja hingga menemukan papan besar sebuah masjid tempat kita bertemu, “Masjid Ulul Albab.”

Masjid putih gading dengan interior kolam buatan di sampingnya. Suasana masjid yang masih sepi walau terdengar suara ceramah kajian di dalamnya. Berbeda dengan pemandangan di kolam buatan itu. Di sana tampak pasangan muda-mudi, dan kelompok remaja yang sekedar menunggu waktu berbuka. Tak sulit untuk menemukan zona wanita (akhwat)  di masjid itu. Sebelum masuk, aku sempatkan untuk merekam senja dengan latar belakang masjid yang megah.

doc. An : Masjid Ulul Albab

doc. An : Masjid Ulul Albab

SAM_1497

Jejak pertamaku di Ulul Albab meninggalkan kenangan manis di memori. Saat mengulang ingatan tentang wajahmu, dan aku malu ternyata kau masih ingat wajahku. Kita akhirnya berpelukan dan mengucapkan salam persaudaraan. Sudah lama kita tak bertemu, dan wajah teduhmu masih sama dengan yang dulu. Kerendahan hatimu.. Kelembutan suaramu.. Derajatmu yang mulia karena pengabdianmu sebagai Pembina adik-adik mahasiswa di pondok tahfidz Al Qur’an. Yap, di akhir masa studimu, kau beranikan diri untuk menetap sementara di kota Lunpia untuk menjadi pengajar Al Qur’an. Ya Rabb.. Aku memang belum lama mengenalmu, namun aku berani mengambil kesimpulan; kau memang sosok muslimah yang ‘wow’ menurutku.

Kau mengajakku ke lantai tiga seraya mendengarkan tausiyah sebelum berbuka. Kemudian, kau mengenalkanku para anak santri didikmu saat menikmati hidangan berbuka. Sungguh, sangat nikmat rasanya saat berbuka dengan orang banyak. Celoteh-celoteh segar tentang kehidupan mahasiswa terdengar di telingaku. Aku jadi ingat masa-masa lalu. Aku masih merasa ‘muda’ kembali bersama mereka🙂

kelompok anak tahfidz Qur'an

kelompok anak tahfidz Qur’an

Aku mengikuti shalat terawih sejumlah 8 rakaat yang dipisah dua salam. Berbeda dengan sistem masjid perumahanku yang menerapkan jumlah rakaat 8 rakaat yang dipisah empat salam. Sang Ustad menyampaikan tentang tema “Jihad Fi Sabilillah” sebelum shalat Terawih dilaksanakan. Beliau mengingatkan kami kembali tentang QS At Taubah: 111 – 112.

9:111
Sahih International

Indeed, Allah has purchased from the believers their lives and their properties [in exchange] for that they will have Paradise. They fight in the cause of Allah , so they kill and are killed. [It is] a true promise [binding] upon Him in the Torah and the Gospel and the Qur’an. And who is truer to his covenant than Allah ? So rejoice in your transaction which you have contracted. And it is that which is the great attainment.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

9:112

9:112
Sahih International

[Such believers are] the repentant, the worshippers, the praisers [of Allah ], the travelers [for His cause], those who bow and prostrate [in prayer], those who enjoin what is right and forbid what is wrong, and those who observe the limits [set by] Allah . And give good tidings to the believers.

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Ada quote menarik yang disampaikan beliau,

“Barangsiapa yang berjihad dalam rangka mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju syurga.” [HR Muslim]

Hehe.. jadi teringat dengan ceramah Ustad Heri tempo lalu. Jihad itu tidak selalu identik dengan peperangan besar, tetapi orang menuntut ilmu juga bisa dikatakan jihad fi sabilillah bila dilakukan dengan sungguh-sungguh🙂

Seusai shalat terawih, ternyata masih ada kajian menarik yang tak boleh dilewatkan.

Ini tentang malam-malam mulia, sebuah masa penentuan takdir seseorang setahun ke depan..

(to be continued…)

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

2 responses »

  1. […] catatan sebelumnya: https://asagienpitsu.wordpress.com/2013/08/02/ramadhan-penuh-cinta-11-catatan-takdir-kita/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s