catatan sebelumnya: https://asagienpitsu.wordpress.com/2013/08/02/ramadhan-penuh-cinta-11-catatan-takdir-kita/

Ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia, yakni nikmat KESEMPATAN dan KESEHATAN. Alhamdulillah, aku bersyukur karena mendapatkan dua nikmat tersebut sekaligus di malam ganjil (23 Ramadhan) tempo lalu. Badan dan pikiranku kembali segar,  aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu denganmu, beri’tikaf bersama untuk pertama kalinya, dan hal yang paling penting; belajar Al Qur’an dengan ilmu tajwid yang sempurna. Aku sadari bacaanku masih terbata-bata, jauh sekali dari ucapan tartil, sangat berantakan, deh, pokoknya! Engkau membimbingku secara sabar. Mengulang-ulang baca ta’awudz, basmalah, kemudian surat Al Fatihah secara perlahan.

Di samping itu, aku sungguh berbahagia. Selepas shalat witir, Aku bertemu lagi dengan adik penulis best seller buku A2C (Ayat-ayat Cinta). Beliau memberikan tausiyah yang menurutku sangat bermakna:

KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QADAR

Ustad. Anif

doc. An : Ustad. Anif

Berulang kali membaca artikel tentang lailatul Qadar, rasanya kurang puas jika tak mendengarkan langsung dari seorang ustadz/ ulama. Apalagi tausiyah yang diberikan bertepatan dengan malam ganjil, membuat syaraf-syaraf otak mulai terjaga, terbebas dari rasa ngantuk sehabis pulang kerja. Durasi dua jam kajian tentang Lailatul Qadar tidak menjadi membosankan karena Ust. Anif membawakannya dengan segar.

Kalimat pembuka beliau yang memancing audiens untuk berpikir, “Pernahkan Anda merasakan yakin mendapatkan Lailatul Qadar? Adakah yang di sini yang mendapatkan malam mulia tersebut? Kalau ada, ayo ancungkan tangan!”

Pertanyaan tersebut disambut senyum oleh para audiens. Merasa yakin atau tidak yakin, hanya Allah yang Maha Mengetahui apakah hamba-Nya pantas mendapatkan malam mulia Lailatul Qadar atau tidak. Meski berstatus ‘RAHASIA ALLAH’, kita boleh saja tahu, bagaimana riwayat (latar belakang) malam Lailatul  Qadar, mengapa sangat begitu dimuliakan, dan apa saja tanda-tanda orang yang mendapatkannya? Ust. Anif menjelaskannya dengan referensi buku tafsir QS Al Qadr (maaf, aku lupa judul bukunya apa).

Yuuk, kita buka Al Qur’an, tepatnya Qur’an Surat (QS) Al Qadr, ayat 1 – 5. Adakah yang sudah hafal membaca dan mengerti maknanya?😀 Surat ini menjadi surat favoritku setiap melaksanakan shalat wajib.

Surat Al-Qadr (The Power) – سورة القدر

97:1

Indeed, We sent the Qur’an down during the Night of Decree.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

97:2

And what can make you know what is the Night of Decree?

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

97:3
The Night of Decree is better than a thousand months.
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

97:4

The angels and the Spirit descend therein by permission of their Lord for every matter.

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

97:5
Peace it is until the emergence of dawn.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Sumber: http://quran.com/97 dan http://quran.com/89

Jika dilihat dari terjemahan Ayat pertama QS Al Qadr, Allah mengkalamnya dengan sebuah pernyataan lalu pertanyaan untuk menekankan. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (QS 97: 1). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS 97: 2)

malam lailatul qadar

doc. An : Menjemput Lailatul Qadar

Mari, kita melihat makna Lailatul Qadar secara harfiah, yah.

LAILATUL diambil dari kata LAILA yang berarti Malam

QADAR yang berarti Penentuan. Ada juga yang berpendapat bahwa Qadar itu berarti sempit karena banyak malaikat yang turun ke bumi melebihi sejumlah pasir.

—-> Jadi, secara ringkas Malam Lailatul bisa didefinisikan sebagai malam penentuan/ takdir Allah SWT terhadap nasib para hamba-Nya.

Ada tambahan penjelasan menarik yang kuambil di website muslim or.id: 

Lailatul qadar adalah malam yang ditetapkan Allah bagi umat Islam. Ada dua pengertian mengenai maksud malam tersebut. Pertama, lailatul qadar adalah malam kemuliaan. Kedua, lailatul qadar adalah waktu ditetapkannya takdir tahunan. Kedua makna ini adalah maksud dari lailatul qadar.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disebut lailatul qadar karena di malam tersebut dicatat untuk para malaikat catatan takdir, rezeki dan ajal yang terjadi pada tahun tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhon: 4). Qotadah berkata, “Yang dimaksud adalah pada malam lailatul qadar ditetapkan takdir tahunan.”  (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 13: 132)

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa dicatat dalam induk kitab pada malam lailatul qadar segala yang terjadi selama setahun berupa kebaikan, kejelekan, rezeki dan ajal, bahkan sampai kejadian ia berhaji. Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, 7: 338.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pada malam lailatul qadar ditetapkan di Lauhul Mahfuzh mengenai takdir dalam setahun yaitu terdapat ketetapan ajal dan rezeki, begitu pula berbagai kejadian yang akan terjadi dalam setahun. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak, dan ulama salaf lainnya.” Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim dalam penjelasan ayat di atas.

Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman berkata, “Ada salah satu pencatatan kitab yang terdapat pada malam lailatul qadar. Kitab tersebut dicatat namun masih bersesuaian dengan takdir yang dulu sudah ada, di mana Allah sudah menetapkan berbagai takdir makhluk, mulai dari ajal, rezeki, perbuatan serta keadaan mereka. Dalam penulisan tersebut, Allah menyerahkan kepada para malaikat. Takdir tersebut dicatat pada hamba ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Kemudian setelah ia lahir ke dunia, Allah mewakilkan kepada malaikat pencatat untuk mencatat setiap amalan hamba. Di malam lailatul qadar tersebut, Allah menetapkan takdir dalam setahun. Semua takdir ini adalah tanda sempurnanya ilmu, hikmah dan ketelitian Allah terhadap makhluk-Nya.”

Ustad. Anif menekankan, pentingnya umat muslim untuk menjemput Lailatul Qadar —> berdo’a sebanyak-banyaknya untuk mengubah takdir lebih baik. Ingin memiliki usia panjang dengan amal ibadah yang mengalir terus-menerus // Memperoleh kebahagiaan hakiki berkat ilmu dan harta yang bermanfaat // Berhasrat untuk memiliki jodoh yang baik, kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah//

Dengan demikian, sangat penting memanjatkan do’a apa saja saat waktu mustajab tiba, salah satunya pada waktu malam Lailatul Qadar. Yup, Insya Allah, dengan kehendak Allah, kita bisa mengubah catatan takdir kita lebih baik🙂

Asbabun Nuzul QS Al Qadar

Mencermati ayat selanjutnya (QS 97:3), “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

LEBIH BAIK daripada seribu bulan! Jika dihitung-hitung sekitar 83 tahun 4 bulan. Seribu bulan? Kenapa tidak disebutkan sejuta? Ratusan? Puluhan? Ustad. Anif memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa angka seribu itu sebagai simbol waktu yang sangat lama (tak terbatas). Masih ingat puisi Chairul Anwar yang menyebutkan bahwa ia ingin hidup seribu tahun lagi? QS Al Qadr berhubungan dengan kesedihan Rasulullah terhadap usia umatnya yang lebih pendek daripada umat para nabi sebelumnya.

* Mujahid meriwayatkan bahwa zaman Bani Israel, ada seorang lelaki yang tekun melakukan ibadah di malam hari dan berjuang melakukan ibadah di siang hari selama 1000 bulan. Oleh karena itu, Allah menurunkan QS Al Qadr sebagai keutamaan umat Rasulullah agar mereka dapat beramal shaleh (HR Ibnu Jarir)

Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169).

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah semangat dan bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar pada sepuluh hari tersebut. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 53.

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017).

Kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (lihat Fathul Bari, 4: 262-266 dan Syarh Shahih Muslim, 6: 40).

Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan (lihat Fathul Bari, 4: 266).

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,

وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي

“Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260).

Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475.)

Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut.

Tanda-tanda Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Ustad. Anif menyebutkan bahwa orang yang mendapatkan Lailatul Qadar, dalam satu tahun depan ia tidak berani berbuat maksiat, menjaga amalan ibadah harian, menjaga spirit Lailatul Qadar dengan mendirikan shalat wajib dan sunnah, memperbanyak bacaan Al Qur’an, berpuasa sunnah dan konsisten (baca: istiqomah) menjaga ibadah lainnya selepas bulan Ramadhan.

Malam Lailatul Qadar Bisa Jadi di Malam Genap

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa sepantasnya bagi seorang muslim untuk mencari malam lailatul qadar di seluruh sepuluh hari terakhir. Karena keseluruhan malam sepuluh hari terakhir bisa teranggap ganjil jika yang dijadikan standar perhitungan adalah dari awal dan akhir bulan Ramadhan. Jika dihitung dari awal bulan Ramadhan, malam ke-21, 23 atau malam ganjil lainnya, maka sebagaimana yang kita hitung. Jika dihitung dari Ramadhan yang tersisa, maka bisa jadi malam genap itulah yang dikatakan ganjil. Dalam hadits datang dengan lafazh,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021).

Jika bulan Ramadhan 30 hari, maka kalau menghitung sembilan malam yang tersisa, maka dimulai dari malam ke-22. Jika tujuh malam yang tersisa, maka malam lailatul qadar terjadi pada malam ke-24. Sedangkan lima malam yang tersisa, berarti lailatul qadar pada malam ke-26, dan seterusnya (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25: 285).

Diskusi

Di dalam diskusi, ada pertanyaan menarik yang disampaikan, “Ustad, apakah menjemput Lailatul Qadar hanya bisa dilakukan saat i’tikaf saja?” Lalu ustad menjelaskan bahwa I’tikaf bukan sarana satu-satunya untuk mendapatkan malam mulia. Kita bisa berdzikir, membaca Al Qur’an, bahkan shalat di rumah untuk menjemput Lailatul Qadar.

Referensi pendukung dari web muslim or.id:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379.
  • Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Ibnil Jauzi.
  • Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan keempat, tahun 1432 H.
  • Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 51-52.

Alhamdulillah.. Semoga kita berkesempatan untuk menjemput Lailatul Qadar, malam-malam mulia yang senantiasa kita rindukan🙂

Seusai pulang i’tikaf, aku mendapatkan kejadian yang menyesakkan jiwa…. Air mataku tak bisa membendung lagi. Mataku bertambah sembab (menghitam) karenanya..

Aku merasa belum berbakti kepada Ibuku, orang tua terdekatku selama ini. Masih ada ucapan kasar yang teralamatkan kepadanya. Aku ingin menyampaikan kebaikan, tetapi mengapa yang keluar adalah sebuah kemarahan dan kekecewaan? Astagfirullah.. 

Allahumma innaka afuwwun, tuhibbul afwa fa’fuannii…. T-T

doc. An: do'a Lailatul Qadar

doc. An: do’a Lailatul Qadar

(to be continued..)

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s