bogor

 

Hujan. Hijau. Embun. Asinan. Angkot. Istana. Kebun Raya. Lapangan. Hotel. IPB.

Kau pasti tahu deretan kata itu bermuara ke mana. Yap! Jika mengingat kata-kata di atas, akan dihubungkan dengan Kota Bogor yang terkenal dengan kota hujan dan seribu angkotnya. Kau pasti tak asing dengan kota ini. Kota satelit dari Ibukota, bagian dari istilah JABODETABEK.


Dari Bandara Soeta ke Bogor, An bersama Bu Endang menaiki Bus Damri Executive Class, sebuah bus yang bener-bener nyaman fasilitasnya! Ada sandaran kaki dan kepala yang tidak membuatmu lelah selama perjalanan dua jam. Ada TV dan sound audio  yang membuatmu ga bosen, deh. Tempat duduknya diatur sedemikian rupa, terdiri dari satu-dua penumpang setiap shafnya. Terus juga ada fasilitas toilet penumpang yang terletak di belakang. Harganya? Sebanding lurus dengan fasilitasnya. Siapkan kocek 65 ribu jika kamu ingin menaiki bus Damri ini. Selisih dengan bus Damri regular hanya 20 ribu.

An bersyukur banget bisa berkesempatan menginjakkan kaki di kota ‘beriman’ ini. Sambil berkerja, An bisa bersilaturahiim ke tempat Pakdhe dan Budhe di daerah Cimanggu. Tak tanggung-tanggung, An juga bisa berkopdaran langsung dengan sahabat DUMAY yang sedang mengukir prestasi di institute pertanian. Ah, dunia maya memang terlihat luas dari permukaannya, namun ketika kau bertemu dengan sahabat DUMAY di dalamnya, kau pasti akan setuju dengan anggapanku: Dunia di antara kita akan menjadi sempit tatkala kita bertemu.

Apakah kau memiliki sahabat DUMAY sepertiku? Aku menganggap mereka sahabat karena ukhuwah itu tak mengenal status atau usia. Ah, sebutan sahabat memang lebih pantas untuk mereka. Seseorang yang meskipun belum pernah bertemu, dalam jarak jauh bisa menjadi dekat saat berinteraksi di alam maya. Syukurlah, Allah kemudian mempertemukan An dengan sahabat DUMAY di alam nyata. Mereka menyambut An dengan cinta, semangat, dan senyum yang khas. An tak pernah lupa akan momentum pertemuan bersama mereka. Kisah-kisah yang mereka ceritakan akan menjadi ibroh penting dalam hidup An.

Semula, An tak begitu percaya bisa bertemu kedua sahabay DUMAY: dek Sekar (www.sekarsekarsekar.wordpress.com) dan teh Ai (www.aiziesharie.blogspot.com). Bagaimana mungkin bisa sempat jalan-jalan ke daerah Dramaga, tempat tinggal mereka di sana dalam sela-sela jadwal kegiatan An yang sangat padat. Alhasil, dek Sekar berela-rela datang ke hotel An yang terletak di kawasan Sentral Park dengan naik angkot sehabis pulang kuliah jam 3 sore. Saat itu An belum selesai acara kantornya. Dek Sekar-pun menunggu s/d menjelang maghrib dan An begitu antusias ketika bisa ke Dramaga menemui teh Ai. Barang-barang bawaan besok pagi sudah disiapkan ke dalam tas ransel. Siip, deh. An berencana untuk menginap di kos the Ai yang terletak di dramaga, dekat kampus IPB.

Ups. Cuaca malah kurang bersahabat. Malam yang seharusnya purnama berubah menjadi rinai hujan membasahi bumi. Pohon-pohon di lapangan sempur terlihat kerepotan menyerap guyuran air hujan. Alhamdulillah, dek Sekar membawa payung kecil sebagai persiapan hujan. Kota Bogor memang tak mengenal musim. September yang harusnya musim kering, di kota ini hujan terjadi hampir tiap hari. Aha, An dan Sekar meninggalkan hotel dengan berpayung ria. Kalau kami berlawan jenis, mungkin suasana itu terasa sangat romantis. Di tengah jalan, An dikagetkan oleh kodok kecil yang melompat-lompat di bawah rok dek Sekar. Si Sekar malah bersikap acuh, sedangkan An berteriak histeris. Hihi.. Selanjutnya, rok kami kebasahan berkat kesemprot oleh mobil tak bertanggung jawab. Alhasil, kami bertambah kedinginan menyusuri jalan mencari angkot no.3 menuju Laladon.

Berkat Sekar, An bisa merasakan sensasi naik angkot di kota hujan. Rabu kemarin menjadi lembar memori yang terus dikenang, deh. Betapa tidak? An menemukan dua sosok sahabat DUMAY yang terlihat unik di alam nyata. Si Sekar yang energik, humoris, dan suka blak-blakan, sedangkan teh Ai yang lembut, idealis, dan bijaksana. An bersyukur mengenal mereka. Belum setahun persahabatan kami terjalin, tetapi An merasa nyaman bersama mereka. Sekar dan Ai belum mengenal satu sama lain. Barangkali, ketika membaca tulisan An ini, mereka jadi berteman. Seperti lemparan bola salju, dari teman yang satu bisa mengenal teman yang lain.^^

with sekar

Mengutip status tweet dari teh Ai:

“Ada perjumpaan yang begitu indah. Ada perjumpaan yang terasa musibah. Ada sosok yang menjadi hadiah kiriman. Ada sosok yang dikirim sebagai ujian” #hidup

with ai

Jum’at, 27 September

Langit masih gelap, mobil melaju cepat ke Botani Square, tempat pemberhentian Bus Damri. Jam 4.12 An meluncur kembali ke Bandara Soeta untuk pulang ke Semarang. Kondisi jalan masih sepi sehingga perjalanan sangat lancar, aman, dan terkendali. Cukup satu jam sampai ke Bandara dan menunaikan shalat shubuh berjama’ah di mushola. Selanjutnya, menunggu s/d jam 07.35, take off ke Semarang.

Alhamdulillah, minggu ini menjadi minggu yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Banyak kejadian penting yang An alami bersama teman-teman. Mulai dari ketemu pak Gurbernur, keluarga, hingga sahabat DUMAY. Alhamdulillah, ndak ketemuan ma makhluk halus di hotel (karena teman An ada yang mengalami kejadian ganjil di sana). Hihi.. Mulai fokus untuk PR-PR kantor yang belum terselesaikan, deh. Ayo, An!! Semangat melaksanakan amanah tanpa berkeluh kesah…

@Bandara Soeta

An Maharani Bluepen

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

6 responses »

  1. usimautauaja says:

    ciyee, dek Sekar😛
    itu ada adik aku, Ashida Mana😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s