Oleh: Ania Maharani, SKM

penyakit TB

Dok. An: Penyakit TB

Tuberculosis (TB). Apa yang kita pikirkan saat mendengar penyakit itu? Pertama, TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Kedua, penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian. Ketiga, pengobatan TB memerlukan jangka waktu yang panjang dan perlu dimonitoring secara terus-menerus. Sejak tahun 1993, WHO mendeklarasikan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Kemudian dua tahun selanjutnya (1995), WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam pengendalian TB.

estimasi TB Indonesia

sumber: Global Report TB 2013

Penyakit TB masih menjadi momok masalah kesehatan dunia yang belum terselesaikan. Penyakit TB termasuk dalam perhatian target MDG’s (Millenium Development Goals) poin 6, tahun 2015. Menurut global report TB, pada tahun 2012 sekitar 8,6 juta pasien TB baru dan 1,3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia. Indonesia termasuk salah satu dari 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Estimasi insidens (kasus baru) TB di Indonesia pada tahun 2012 menempati peringkat ke-4 di dunia. Permasalahan TB di Indonesia semakin berkembang luas dengan adanya resistensi ganda kuman TB terhadap obat anti TB, TB-MDR (Multi Drug Resistance), TB-XDR (Extensively Drug Resistance), dan koinfeksi TB-HIV. Keadaan tersebut akan menyebabkan terjadinya epidemik TB yang sulit ditangani.

Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course) sebagai upaya pengendalian TB terdiri dari lima komponen kunci, antara lain:

1)      Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan.

2)      Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak miskroskopik yang terjamin mutunya. Gejala utama penyakit TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu. Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan, dan menentukan potensi penularan.

3)      Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan bagi pasien.

4)      Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif.

5)      Sistem monitoring pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program.

Upaya pengendalian TB memerlukan dukungan atau partisipasi dari semua pihak, mulai dari pihak birokrasi, pihak manajerial, praktisi pelayanan medik, pihak swasta, serta peran serta masyarakat. Tidak mungkin jika upaya pengendalian TB ini hanya dibebankan oleh dokter yang menyembuhkan pasien TB tanpa peranan sektor lainnya. Ibarat satu batang lidi yang tak mampu membersihkan halaman dengan optimal, diperlukan seratus batang lidi untuk membentuk sapu yang kuat. Begitu pula dengan strategi DOTS yang memerlukan kolaborasi antar sektor untuk mengendalikan penyakit TB agar tidak bertambah luas di masyarakat.

Selama saya berkerja di LSM Kesehatan Swasta yang bergerak di bidang TB, saya mengetahui bahwa strategi DOTS tidak akan terlaksana tanpa pihak yang mengkoordinasikannya. Pihak tersebut menjadi jembatan penghubung antara pemangku kebijakan, praktisi pelayanan medik, serta masyarakat. Mereka berperan serta dalam sistem monitoring pencatatan dan pelaporan TB sehingga kita bisa mengetahui status kesehatan dalam suatu wilayah; apakah daerah tersebut endemis TB ataupun tidak. Mereka disebut dengan ‘Wasor TB’, pengelola program TB yang berkerja tanpa mengenal lelah.

Alhamdulillah, saya bisa berkesempatan berkerja bersama mereka di lingkungan instansi Dinas Kesehatan. Mulai dari pengelola program TB tingkat pusat, provinsi, kabupaten, hingga tingkat fasyankes (Puskesmas/ Rumah Sakit/ BKPM). Setiap dua kali per tahun, diadakan monitoring dan evaluasi data untuk mengetahui kinerja program TB baik di tingkat nasional maupun provinsi. Dari sini, pemerintah bisa mengambil sebuah kebijakan apabila terdapat peningkatan atau penurunan angka indikator TB, seperti angka CNR (Case Notification Rate), CDR (Case Detection Rate), angka kesembuhan (cure rate), angka keberhasilan pengobatan (Success Rate), angka putus berobat (Default Rate) dan proporsi kematian.

Acara Monev dan Validasi Data TB tingkat Nasional di Nusa Dua, Juli 2013

Dok. An: Acara Monev dan Validasi Data TB tingkat Nasional di Nusa Dua, Juli 2013

Mempelajari pelaporan TB seperti memasuki rimba yang memiliki aneka tumbuhan dan hewan. Setiap pelaporan memiliki format masing-masing dan diklasifikasikan berdasarkan kebutuhan. Seorang Wasor TB perlu memahami perbedaan jenis formulir yang ada, seperti kartu pengobatan pasien TB (TB-01), kartu identitas pasien (TB-02), register TB Kabupaten/ Kota (TB-03), register laboratorium (TB-04), formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB-05), daftar tersangka (suspek) yang diperiksa dahak (TB-06), laporan triwulan penemuan dan pengobatan pasien TB (TB-07), laporan triwulan hasil pengobatan pasien TB (TB-08), formulir rujukan/ pindah pasien TB (TB-09), formulir hasil akhir pengobatan pasien TB pindahan (TB-10), laporan triwulan hasil pemeriksaan dahak mikroskopik akhir tahap intensif (TB-11), formulir jaga mutu pemeriksaan laboratorium TB (TB-12), serta laporan triwulan obat anti TB (TB-13).

Selain mendokumentasikan ketigabelas laporan itu dengan baik, seorang Wasor TB juga harus mampu berkomunikasi dengan praktisi pelayanan medik (seperti dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi, dan tenaga laboratorium), kader kesehatan, serta instansi swasta dalam menerapkan strategi DOTS. Wasor TB tidak bisa berkerja secara sendirian. Diperlukan kerjasama yang solid antar mitra dalam pengendalian kasus TB di suatu wilayah. Mulai dari usaha pencegahan, penemuan suspek penderita TB, monitoring pengobatan pasien, hingga follow-up pengobatan pasien.

SITT On Line

SITT-2 On Line

SITT Off line

SITT-2 Off line

Saat ini telah berkembang SITT (Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu) yang merupakan aplikasi berbasis web yang bisa diakses baik secara offline maupun online. Sejak tahun 2012, SITT berkembang menjadi sistem pelaporan TB bagi wasor provinsi dan kabupaten. Sistem informasi ini sangat membantu pelaporan pengelola program TB agar berjalan efisien, efektif, akurat, dan tepat waktu. Coba bayangkan saja, jika pelaporan TB terlambat, maka akan banyak pihak yang dirugikan, termasuk dari sisi pasien maupun dari pemerintah selaku pengambilan kebijakan.

Pengalaman seru saya dapatkan ketika menjadi fasilitator pelatihan SITT di beberapa daerah. Transfer ilmu dan cerita inspiratif mulai mengalir dari para wasor provinsi dan wasor kabupaten/ kota. Cerita paling berkesan di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada bulan November 2013. Saya berkenalan dengan Pak Ardiansyah, mantan Wasor TB Provinsi yang masih semangat bergerak dalam pengendalian TB. Saat ini beliau menjadi supervisor di LSM TB Paru. Beliau merespon baik kehadiran SITT tahap 2 yang akan diimplementasikan di 34 Provinsi Indonesia. Bahkan, beliau merekomendasikan konsep analisis kinerja petugas laboratorium dengan perangkat excel sederhana yang telah beliau rancang.

“Syukurlah, jika SITT Tahap 2 sudah dimasukkan tatalaksana uji silang (cross check) dengan metode LQAS (Lot Quality Assurance Sampling). Akan lebih baik lagi jika dimasukkan analisis kinerja petugas laboratorium tiap fasyankes supaya dapat diumpan balik oleh wasor kabupaten, Ibu,” saran Pak Ardiansyah seusai pelatihan SITT.

“Terima kasih atas saran Bapak. SITT Tahap 2 ini masih perlu proses perbaikan dan kelengkapan secara bertahap, Bapak. Kami boleh melihat sistem excel yang Bapak rancang untuk menganalisis kinerja petugas laboratorium?” tanya saya penasaran.

“Tentu saja boleh, Ibu. Berikut adalah sistem yang coba saya rancang sebelum adanya SITT. Sampai saat ini, para wasor kabupaten/ kota di kepulauan Riau sudah menggunakan format laporan analisis ini. Saya sudah berdiskusi dengan tim pusat Kemenkes mengenai aplikasi excel yang saya ajukan untuk dimasukkan ke dalam sistem informasi. Saya berharap agar bisa dimasukkan di SITT Tahap 2,” harapan Pak Ardiansyah mengenai aplikasi SITT Tahap 2 yang baru disosialisasikan akhir tahun 2013.

Saya begitu mengagumi cara kerja Pak Ardiansyah dalam mengidentifikasi permasalahan penatalaksanaan laboratorium. Beliau membuat aplikasi dalam bentuk excel yang sudah terstruktur rapi dengan perhitungan otomatis. Padahal, latar belakang pendidikan beliau bukan dari Teknologi Informasi, melainkan dari pelaksana medis (perawat). Kemudian beliau mengabdikan diri menjadi PNS dan ditempatkan sebagai pengelola program TB. Bagi beliau, menjadi Wasor TB adalah jalan terang kehidupannya selama ini. Keikhlasan beliau tercermin saat menyempurnakan program aplikasi untuk membantu para pengelola program TB yang lain tanpa pamrih.

Wasor TB Kab/ Kota di Prov. Kepulauan Riau

Wasor TB Kab/ Kota di Prov. Kepulauan Riau

Jejak di Provinsi Kepulauan Riau

Jejak di Provinsi Kepulauan Riau

Provinsi Kepulauan Riau memiliki 93 fasyankes yang tersebar di tujuh wilayah kabupaten/ kota yang terpisahkan oleh pulau-pulau (Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga, Kota Batam, Kota Tanjung Pinang, dan Kepulauan Anambas). Banyak kendala yang dihadapi para Wasor TB. Misalnya, menghadapi dokter spesialis yang bertentangan dengan aspek program, seorang Wasor TB harus mampu bersabar dalam memberikan pemahaman. Kemudian, melacak pasien TB yang mangkir (putus) berobat menjadi tanggung jawab Wasor TB bersama PMO (Pemantau Minum Obat). Dari sisi demografis, para Wasor TB tingkat Kabupaten juga perlu perjuangan saat melakukan supervisi di fasyankes daerah terpencil. Musim hujan dan ombak besar menjadi kendala perjalanan. Komunikasi lewat sinyal telepon dan internet di daerah terpencil juga masih terbatas. Jika ingin mengaplikasikan program SITT tahap 2 tingkat fasyankes di daerah ini, maka hanya bisa dilakukan secara offline (tidak perlu mengakses internet). Kendala-kendala Wasor TB di Kepulauan Riau juga hampir sama dirasakan oleh Wasor TB di provinsi lain.

Di balik kendala, ada sisi hikmah yang diberikan oleh Wasor TB. Pengabdian mereka di bidang kesehatan tidak tampak di layar kaca, namun bergerak nyata dalam upaya pengendalian TB. Oleh karena itu, sebagai masyarakat, kita perlu mengapresiasi kinerja mereka dengan melakukan pencegahan TB sedini mungkin, melaporkan apabila ada kasus TB di wilayah terdekat serta mengubah stigma negatif penyakit TB dengan tidak mengucilkan para penderita.

Postingan ini diikutkan di dalam lomba blog Kesehatan yang diadakan oleh Forum Peduli Kesehatan Rakyat:

Lomba Blog FPKR (02 - 11 Desember 2013)

Lomba Blog FPKR (02 – 11 Desember 2013)

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

12 responses »

  1. waaah, dulu aku pernah berobat disitu pas masih kecil (TK). Sakit flek paru-paru. Ga sampe TBC alhamdulillah. Gara-gara jadi perokok pasif😦

    • Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Seriuss, dek? Kalau masih kecil, kemungkinan kena TB Anak, yah..Alhamdulillah, ga sampai parah🙂

      Sepengetahuan saya, mengenai hubungan perokok dan TB, sih, hanya memperparah saja, dek. Bukan sebagai faktor penyebab TB (TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang terdapat dalam dahak seseorang)🙂

  2. Wah, mbak An pernah ke Tanjungpinang ya, padahal dekat lho dengan rumah saya.

  3. niaharyanto says:

    Wuih keren. Saluuuut. Semoga menang.🙂

  4. Maratus sholichah says:

    Aq bangga dik sama samean .smg sukses dan menang.aq jg mau dik dikirimi aplikadi p.ardiansyah lwt emailku.yg ttg sitt lqas.smg Allah selalu memberiksn kita kekuatan untuk mempermudah urusan org lain

  5. Subhanalloh.. tetap semangat, dan semoga setiap langkah selalu diberkahi-Nya..🙂 TB masih jd salah satu masalah kesehatan yg sangat besar di negara kita. Peran Wasor TB benar2 dibutuhkan…

  6. rodamemn says:

    tulisannya informatif sekali, semoga terus dapat berbagi ya🙂 *kunjungan balik nih bun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s