Seusai membaca postingan Pak Rinaldi (link), An bisa mempelajari hikmah dari hal yang sederhana. Sesuatu yang tampaknya kecil namun meninggalkan jejak yang bermakna. Kita tak perlu merasa kesepian karena ada kalam Allah yang menghibur: Innallaha ma’ashobirin. Sesungguhnya Allah beserta orang yang bersabar. Saat kita ditempa ujian, badai ombak yang menghanyutkan perasaan, sebilah pisau yang meninggalkan luka di hati, mampukah kita bersabar menghadapi itu dengan senyuman?

wpid-IMG_20131115_113108.jpg

🙂


Buah pepaya yang belum matang pada waktunya akan terasa masam apabila dipetik saat itu juga. Namun demikian, Pak Rinaldi, menunggu dengan sabar sampai buah pepaya itu benar-benar matang. Saat mendapatkan buah yang manis, Pak Rinaldi juga tak segan berbagi kebahagiaan dengan tetangga di sampingnya. Beliau juga tak lupa bersyukur atas nikmat yang diterima. Yap! Tanda syukur itu bukan saja diungkapkan sewaktu mendapatkan kebahagiaan, tetapi juga perlu diungkapkan saat kita berada dalam sebuah ujian….

Ada kata-kata bertenaga yang disampaikan oleh teman pada pagi ini.

A (An) : “Suka dengan onta, ya?”

F            : “Lagi bertafakur terhadap onta, sekalipun setiap waktu ia harus memanggul punuk, wajahnya tetap tersenyum, sepertinya ia tahu bahwa punuknya yang membuat dia bisa bertahan lebih lama di lingkungan cadasnya.”

An tertegun. Seolah-olah mendapatkan siraman energi semangat dari jawaban singkat itu. Kemudian, An relasikan dengan sesuatu yang menghiburku saat ini,

A           : “Seperti orang yang diberi beban (ujian) tapi dia mau tersenyum dan bersabar. Jazk..”

F            : “Yup. Bersemangat!”

Ada pula rekan An yang akan menikah persis pada pergantian tahun Masehi besok, beliau memberikan rasa toleransi yang tinggi kepada An yang masih single. Lewat pesan WA beliau men-share-kan sesuatu yang mungkin dianggap ‘biasa’ oleh seseorang, bisa menjadi ‘sensitif’ bagi orang lain..

“Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan? Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur. Karena tak semestinya, kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat.

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil. Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah. Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin. Yang sempurna fisiknya,  menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik.

Indah, bukan?

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang di sekitar kita menjadi iri. Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita. Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapat.

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan sesungguhnya.”(SK)

Sungguh, hal ini membuatku berpikir: Kata-kata semangat dari teman/ sahabat akan datang meskipun kita tak perlu meminta kepada mereka. Mereka tak tahu kondisi kita, namun mereka memberikan semangat dari arah yang tidak disangka-sangka. Selanjutnya, An mendapatkan lagu soundtrack doraemon (instrumental) dari rekan lain tanpa harus kuminta. Hey! Bibir mungil ini tergerak secara spontan.

An kembali tersenyum🙂

Allah menghiburku lewat perantara mereka…

Sabar dan syukur adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bahkan, khalifah Umar ibn Khattab-pun tak bisa memilih antara kedua hal itu. Keduanya sama-sama penting diimplementasikan/ dipraktikkan saat seseorang diberi kenikmatan maupun ujian…

An Maharani Bluepen

19 Desember 2013

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s