Oleh: Ania Maharani, SKM

Tuberculosis atau dikenal masyarakat sebagai penyakit TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyebaran bakteri penyakit ini melalui udara sehingga disebut airborne disease. Penyakit TB masih menjadi masalah di dunia karena penyebab kematian no.3, setelah penyakit jantung dan stroke. Penyakit TB bisa menyerang siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan dan banyak terjadi di negara-negara berkembang.

Laporan TB WHO untuk tahun 2013 memperkirakan sekitar 8,6 juta penduduk dunia menderita TB di tahun 2012, dan lebih dari 1,1 juta orang meninggal karenanya. Namun dari sekitar 9 juta orang yang menderita TB di seluruh dunia diperkirakan sekitar sepertiga di antara mereka, belum “terdeteksi” oleh layanan kesehatan, sehingga tema hari TB tahun 2014 adalah “Reach The 3 Million, Find, Treat and Cure for all yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Temukan dan Sembuhkan Pasien TB”. Angka penderita TB dihitung per 100 ribu penduduk. Laporan WHO 2013 menyebutkan penderita TB di Indonesia adalah 185 per 100 ribu penduduk.

Hari TB sedunia jatuh setiap tahun pada tanggal 24 Maret. Hal ini disebabkan pada tahun 1882, dr. Robert Koch mengumumkan telah menemukan sumber TB, bakteri M. tuberculosis pada tanggal tersebut. Kemudian pada tahun 1905, dr. Koch mendapat hadiah Nobel di bidang Kedokteran.

Dalam rangka memperingati hari TB-sedunia, diadakan talkshow 8-11 Metro TV (27/03) dengan mengundang narasumber Ibu Kemenkes RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH serta mantan pasien TB-MDR dari Surakarta, Bapak Apriudin. Perbincangan hangat seputar TB dimoderatori oleh host Metro TV, Frida Lidwani selama 26 menit.

Sebelum diskusi berlangsung, ditayangkan hasil wawancara kepada masyarakat Indonesia tentang penyakit TB. Persepsi masyarakat terhadap TB dinilai cukup baik oleh Ibu Kemenkes. Mereka sudah mengetahui bahwa penyakit TB adalah penyakit menular dan mematikan, namun demikian bisa diobati dan disembuhkan.

“Kemajuan saat ini sudah luar biasa. TB bisa dicegah dan diobati. Pada saat pergantian Millenium, tiga penyakit yang menyebabkan kematian di negara berkembang, yaitu AIDS, Malaria, dan TB. Oleh karena itu, ketiga penyakit tersebut dimasukkan dalam MDG’s (Millenium Development Goals). Pemerintah Indonesia tentunya memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk mencapai target MDG’s, khususnya goal 6 tentang TB.

“Ada lima indikator yang diharapkan pada tahun 2015 akan tercapai. Misalnya, prevalensi kasus TB dari 441 sudah turun menjadi 200, angka kematian dari 92% sudah turun menjadi 27%, CDR (Case Detection Rate) pada 1990 baru 10% meningkat pada 2012 sebesar 83%. Terjadi peningkatan penemuan kasus (CDR) yang luar biasa dalam sepuluh tahun. Hal yang penting lainnya adalah peningkatan SR (Success Rate). Angka keberhasilan pengobatan pada 2012 sudah mencapai 92%. Hampir semua pasien dapat disembuhkan, apalagi kalau pasien datang lebih cepat dan teratur dalam pengobatannya selama enam bulan agar sembuh sempurna. Dengan demikian, diperlukan komitmen bersama antara Pemerintah dan masyarakat sehingga target MDG bisa tercapai,” ungkap dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH.

Tantangan penyakit TB saat ini dipertambah dengan hadirnya penyakit resistensi obat TB (TB-MDR). Penyakit TB-MDR perlu diwaspadai karena ancaman kematiannya lebih besar dan masa pengobatannya lebih lama (19 – 24 bulan). Jenis dan jumlah obat yang dikonsumsi pasien lebih beragam. Ada suntikan tiap hari serta obat yang diminum sebanyak 26 butir.  Biaya estimasi per orang sebesar 110 juta. Dalam hal ini, komitmen pemerintah sudah cukup kuat dan berkerjasama dengan donor (TBCARE I, GF, dan mitra lain)  baik dalam program TB-DOTS dan pengobatan TB-MDR. Masyarakat dibebaskan biaya pengobatan dan diharapkan mereka dapat menjalani pengobatan sampai sembuh.

Doc. KNCV Jateng: Bapak Apriudin bersama Ibu Nafsiah Mboi

Doc. KNCV Jateng: Bapak Apriudin bersama Ibu Nafsiah Mboi

Bapak Apriudin menjelaskan riwayat perjalanan penyakitnya, mulai dari mengidap penyakit TB regular hingga divonis TB-MDR. Bapak kelahiran 1966 ini terkena TB sejak tahun 2010. Gejala yang dirasakan antara lain batuk berdahak terus-menerus, sesak nafas, nyeri dada, berat badan turun, sulit tidur dengan keringat malam tanpa kegiatan. Kemudian Bapak tersebut menjalani perawatan di RSUD dr. Moewardi, Surakarta, Jawa Tengah. Pada akhir masa enam bulan, dinyatakan gagal pengobatan karena tidak mengikuti aturan meminum obat secara teratur selama enam bulan. Kemudian Bapak yang berprofesi sebagai pengemudi ini menjalani pengobatan TB-MDR sejak Maret 2011.

Dalam masa enam bulan pengobatan TB Reguler, Pak Apriudin mengakui bahwa tidak merasa ada ancaman yang berarti. Setelah divonis TB-MDR, beliau memiliki tekad dan keberanian untuk sembuh. Dukungan dari keluarga, perawat, dokter, dan tenaga medis di RSUD dr. Moewardi menjadi sumber kekuatan Pak Apriudin menghadapi penyakit TB-MDR. Dalam prosesnya, Pak Apriudin mengalami efek samping obat (tangan kaku, susah tidur, mudah tersinggung, nyeri persendian, telinga berdengung, mual, serta muntah). Namun demikian, Pak Apriudin tetap berobat secara teratur di RS hingga masa 19 bulan dan dinyatakan sembuh.

Sosialisasi pencegahan TB melalui mantan pasien TB-MDR dapat menjadi salah satu tindakan yang efektif dan mengena pada penderita dan masyarakat umumnya. Saat ini Provinsi Jawa Tengah telah berdiri Paguyuban TB “SEMAR (Semangat Membara)” yang beranggotakan 11 mantan pasien TB-MDR yang telah menyelesaikan pengobatan dan dinyatakan sembuh. Masing-masing anggota paguyuban diharapkan dapat menjadi motor penggerak dukungan sebaya, baik untuk pasien kasus TB-MDR maupun kasus TB regular. Bapak Apriudin merupakan wakil ketua dari Paguyuban SEMAR yang berdiri pada Februari 2014 di Provinsi Jawa Tengah.

Dalam akhir sesi diskusi, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, menyampaikan tips-tips agar pengobatan TB bisa tuntas dan mencegah penularan. Pertama, rajin mendatangi fasyankes terdekat untuk berobat. Kedua, teratur minum obat akan membantu cepatnya proses penyembuhan. Ketiga, tidak meludah sembarangan karena kuman juga bisa menyebar kepada orang lain secara tidak langsung lewat dahak. Keempat, mengurangi rokok atau lebih baiknya lagi jika berhenti merokok. Kelima, menutup mulut ketika batuk/ bersin serta memakai masker untuk mencegah penularan penyakit TB.

#latepost: dokumentasi talkshow TB Day 2014

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s