Sebuah kisah inspiratif yang saya baca dari majalah Embun-Lazis Edisi Ramadhan 1435 H. Semoga bermanfaat, khususnya ilmu bagi calon ortu dan orang tua di manapun Anda berada. Berikut saya tulis ulang di halaman blog ini🙂

**

picture003Siang itu, aku dan isteri duduk melihat anak sulung kami, Muhammad yang sedang berdiri di atas mimbar dalam acara wisudanya. Anak sulung kami itu menjadi salah satu lulusan terbaik universitas, ia mendapatkan predikat cumlaude dengan nilai yang hampir sempurna. Aku tersenyum bangga melihat prestasi anakku itu, tapi rasa bangga itu lebih aku haturkan kepada perempuan di sampingku, istriku.

Kulirik perempuan yang berada di sampingku, senyumnya masih mengembang sambil sesekali menyeka air mata kebahagiaan. Mungkin ini menjadi pengalaman yang tidak asing lagi bagiku. Setiap kali menghadiri undangan yang disana terselip acara penghargaan, pasti istriku menangis. Tidak lain karena setiap acara itulah pasti nama anak kami selalu disebut. Padahal setiap tahun, kami bisa menghadiri lebih dari tiga kali peristiwa semacam itu. Tapi, bagiku tetap saja ada rasa bangga bercampur bahagia ketika berada di saat-saat seperti itu.

Sekarang ini, keluarga kami diamanahi 6 orang anak. Anak pertama adalah ia, yang sekarang berdiri di depan mimbar.  Anak kedua dan ketiga, sekarang ini kuliah di Fakultas Kedokteran sebuah Universitas ternama. Anak keempat, baru saja masuk tanpa tes di sebuah perguruan tinggi. Sementara anak kelima dan keenam masih duduk di bangku SD. Keberhasilan putra dan putri kami, tidak lain karena peran penting dari sesosok Ibu.

Rasa bangga mengalir setiap kali mengenang perjuangan perempuan yang berada di sampingku. Kebanggaan itu bukan tanpa sebab. Bukan hanya karena ia begitu cantik, dan shalihah di mataku. Tapi, aku bangga karena ia senantiasa menjaga anak-anak kami. Menjaga garis keturunanku menjadi orang yang baik budi dan pintar dalam hal agama dan keilmuan. Jadi, jika ditanya teman mengapa bisa berhasil mendidik anak sebanyak itu, aku pasti akan memberikan rujukan jawaban melalui istriku secara langsung.

Aku masih mengingatnya dengan jelas, ketika ia mengandung putra pertama yang hari ini menjadi sarjana. Saban hari, ia selalu menjaga wudhu meskipun tidak sedang akan shalat. Ia selalu menjaga kesucian diri dari najis, apalagi ketika akan memasukkan makanan ke dalam perutnya yang sedang mengandung. Kebiasaan itu sudah mulai dilakukannya dari awal masa kandungan. “Untuk menjaga putra kita, Bi,” katanya ketika kutanya. Aku sebagai suami sekaligus calon ayah menerima alasan itu dengan senang hati. Lagipula, istri tidak keberatan selama melakukannya.

Kebiasaan menjaga wudhu berlangsung terus-menerus hingga akhirnya Muhammad, anak pertama yang kami tunggu itu lahir ke dunia. Dan, di hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat senyum yang tak kunjung putus dari wajah perempuan itu. Aku yang pada waktu itu baru saja menjadi seorang Ayah baru-pun tidak kalah bahagianya. Rasa takjub itu muncul kala melihat pancaran wajah anak kami yang begitu cerah, mengisyaratkan kemurnian lahiriah dari manusia baru yang terlahir dari kandungan ibu.

Hari demi hari, Muhammad tumbuh menjadi bayi yang sehat dan lucu. Istriku sangat menyayngi anak pertama kami ini. Selayaknya memiliki anak pertama kali, istri seolah ingin memberikan yang terbaik dari mulai makanan hingga perhatian. Komitmennya sebagai seorang Ibu ditunjukkannnya dengan memberikan asupan ASI selama dua tahun penuh. Dan, seperti ketika masih mengandung dulu, ia juga selalu menjaga kesucian sebelum memberikan ASI untuk Muhammad. Keistiqomahan istri dalam menjaga wudhu memang selalu membuatku cemburu. Kebiasaan mulia itu dilaksanakannya dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan mudah ataupun sulit.

Aku masih mengingatnya dengan jelas, ketika itu kami masih tinggal di luar negeri untuk tugas kerja Saat itu, Muhammad baru saja genap berumur satu tahun. Karena tidak tega meninggalkan mereka, maka istri dan anak kubawa serta tugas di sana. Saat itu sedang memasuki musim dingin. Salju tak henti-hentinya menghujani hingga menutupi seluruh yang ada di halaman dan jalan-jalan. Begitu dingin saat itu, hingga suhu di luar bisa mencapai angka minus. Tiba-tiba, di suatu malam waktu itu, Muhammad menangis karena kelaparan minta ASI. Istri yang waktu itu sudah berada di samping si kecil justru keluar, tidak segera menyusuinya.

“Mau ke mana, Mi? Ini kasihan Muhammad sudah kelaparan,” tanyaku kepadanya.

“Mau ambil wudhu dulu, Bi,” jawabnya sambal berlalu.

Aku yang menyaksikannya tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Waktu sudah menunjukkan angka 01.00 dini hari. Betapa dinginnya jika kubayangkan berada di luar ruangan. Tapi, tiba-tiba istri bergegas keluar rumah mengambil air, membasuh sebagian tubuhnya. Ia berwudhu. Aku tidak bisa membayangkan betapa dinginnya menyentuh air di tengah malam seperti itu. Tapi, istriku melakukannya, demi menjaga kesucian sebelum menyusui anak kami itu. Aku trenyuh. Kurengkuh tubuh anakku yang masih menangis. Kutepuk-tepuk punggungnya supaya terdiam sampai umminya kembali dari berwudhu.

Begitu selalu ia lakukan, hingga Muhammad tumbuh besar. Selama menyusui, ia tidak pernah lepas dari wudhu. Ketika kutanya jawabannya sungguh membuatku malu. “Bukankah Fatimah r.a. SAW tidak pernah lepas dari wudhu putra-putri beliau, Bi. Aku juga ingin melakukannya, supaya anak kita tumbuh menjadi anak shalih dan selalu dijaga kesuciannya oleh Allah.”

Aku tersenyum ketika mendengar jawaban itu. Begitu bersungguh-sungguh ia dalam hal kebaikan. Bahkan, sebagai suami-pun tidak pernah memberikan teladan baginya. Tapi, justru ia yang selalu mengingatkanku bahwa mendidik anak adalah sebuah tanggung jawab yang mutlak harus dilakukan oleh orang tua. Bahkan, di suatu waktu, tak jarang kutemui ia sedang membaca Al Quran ketika sedang menyusui anak kami. Ia belai kepala anak itu hingga tertidur di pangkuannya.

“Semoga menjadi anak yang shalih, ya, Nak,” gumamnya lirih.

Begitulah istriku, selalu berkomitmen dengan segala hal yang diyakininya benar. Ia selalu mendidik Muhammad dengan cara memberikan teladan secara langsung. Ia tidak pernah meminta anaknya melakukan sesuatu jika ia belum melaksanakannya terlebih dahulu. Hingga anak kami-pun tumbuh menjadi anak yang selalu didamba setiap orang tua. Tumbuh menjadi anak yang selalu diharapkan dalam setiap doa usai shalat.

Melihat kesungguhan istriku, aku-pun tergugah untuk melakukannya juga. Aku berusaha menjaga wudhu meskipun di luar waktu shalat, dalam aktivitas apapun itu. Awalnya begitu berat melakukannya, apalagi ketika sedang berkerja di lapangan. Sangat sulit mengambil wudhu dalam keadaan seperti itu. Apalagi teman-teman juga masih asing dengan kebiasaan berwudhu ketika tidak akan shalat.

“Jam segini mau shalat, Pak. Bukannya tadi sudah berjamaah dengan para perkerja?” Tanya rekan kerjaku suatu ketika.

“Ah, tidak. Hanya mengambil wudhu saja,” jawabku. Mendengar jawabanku itu awalnya para rekan merasa aneh, bahkan ada yang terlihat terganggu. Tapi setelah beberapa waktu, mereka menjadi terbiasa dnegan kebiasaan baruku itu, hingga, akhirnya aku bisa melakukannya dengan baik, bisa menjaga wudhu seperti layaknya istri. Dan selam di rumah-pun, hal itu kami terapkan sebagai contoh untuk anak.

Muhammad yang waktu itu baru berusia 3 tahun sudah dikenalkan dengan berwudhu oleh umminya. Dengan sabar, perempuan itu menuntun anak yang mulai tumbuh itu. Setiap kali berwudhu, pasti anak kami diajak serta. Terkesan tidak ada gunanya memang. Apalagi mengingat bahwa usia Muhammad kecil waktu itu masih menginjak masa balita. Namun, betapa terkesannya aku saat mengetahui antusias anak kecil kami itu. Ia selalu menirukan gerakan umminya hingga akhirnya ia bisa dengan lancar melakukan wudhu sesuai yang diajarkan oleh sang ummi.

Seiring berjalannya waktu, anak kami-pun tubuh menjadi remaja. Sungguh bahagia rasanya, ketika melihat anak lelakinya menjadi seseorang yang baik dalam ibadah dan cerdas akhlaknya. Setelah baligh, Muhammad tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Ia juga senantiasa menjaga wudhu yang telah dicontohkan umminya, bahkan ketika ia masih berada di dalam kandungan. Di sekolahnya, ia selalu menjadi juara kelas di sekolah sejak masih duduk di sekolah dasar. Sebagai seorang anak, ia mudah bergaul dnegan orang lain, makanya tidak heran jika ia memiliki banyak teman di sekolah. Teman-teman dan gurunya sangat menyukai anak itu. Ia selalu ditunjuk menjadi ketua ketika masuk dalam organisasi.

Jadi, ketika hari ini ia menjadi lulusan terbaik universitas, aku-pun sebenarya tidak kaget. Banyak orang tua teman-temannya yang kenal dekat selalu menanyakan metode pendidikan yang kami terapkan dalam mendidik anak. Selalu kujawab, kuncinya berada di tangan sang Ibu yang senantiasa mendidik anaknya meskipun masih berada di dalam kandungan. Dalam hal itu, istriku telah membuktikannya. Salah satunya adalah dengan selalu menjaga wudhu selama mengandung, dan menyusui anak kami. Dengan begitu, semoga Allah senantiasa menjaga kesucian sang bayi hingga ia nanti tumbuh menjadi manusia dewasa.

Keberhasilan mendidik Muhammad-pun akhirnya menurun pada adik-adiknya. Kebiasaan berwudhu selalu diterapkan istri ketika mengandung, dan menyusui kelima anak kecil yang lain. Ia selalu menjaga kesucian diri. Begitu pula denganku, aku sellau berusaha menjaga wudhu ketika beinteraksi dengan anak-anak. Rasaya menjadi lebih tenang ketika harus menghadapi mereka. Kami sendiri sekarang telah membiasakan bersuci itu sebagai kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Kebiasaan ringan yang sangat membantu menjernihkan pikiran dan menenangkan hati. Karena dalam kondisi suci, itulah manusia menjadi semakin dekat dengan Sang Penciptanya.

**

Masyaa Allah, yaaa. Kekuatan positif dari berwudhu bisa berdampak sangat baik perkembangan mental keluarga🙂🙂

 

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

2 responses »

  1. Mugniar says:

    Masya Allah .. inspiratif sekali …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s