Oleh: Kurniawan Gunadi

Aku tidak sedang membicarakan bagaimana menilai perempuan, tapi tentang nilai-nilai dan perempuan. Dua hal berbeda yang aku kaitkan satu sama lain.

Dalam hidup ini, setiap orang memiliki nilai-nilai yang dia pegang. Entah itu nilai tentang perasaannya sendiri, nilai agama, nilai etika, atau nilai orang tuanya. Apapun itu. Pertanyaannya, lantas apa hubungannya dengan perempuan?

Lagi-lagi tentang perasaan, kan?


Dalam situasi pra-nikah_tentu saja bukan pacaran yang aku maksud_ seringkali perempuan menjadi korban perasaan oleh laki-laki yang tidak jelas maksud dan tujuan kedatangannya. Mendekat tapi tidak mau segera mengikat. Sok mengikat tapi tidak pernah berani berucap ijab.

Dalam banyak kasus yang terjadi, perempuan sering menjadi korban ketidakpastian laki-laki. Harus diketahui bahwa perempuan memang dilahirkan dengan perasaan yang lebih banyak dan lebih peka. Mereka perasa. Perhatian sedikit saja bisa mengaktifkan perasaannya.

Hubungan laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan kebutuhan, dilihat dari sudut pandang masing-masing. Perempuan cenderung memiliki kebutuhan psikis seperti dicintai, dihargai, dilindungi, diperhatikan, dan sejenisnya. Sementara laki-laki lebih kepada kebutuhan biologis, tentang bagaimana dia menyalurkan hawa nafsunya. Tentu saja aku berharap ada yang pernah membaca masalah ini dalam kajian-kajian lain.

Ketika seorang laki-laki memberikan perhatian/ kasih sayang/ perlindungan kepada perempuan_meski perempuan itu “hanya” sekedar teman_ itu dapat mengaktifkan perasaan perempuan. Kita menyebutnya GR. Hingga pada akhirnya muncul istilah PHP.

Dalam hubungan-hubungan yang tidak dibenarkan_bukan pernikahan_ perempuan cenderung selalu menjadi korban. Sekali perempuan dikhianati dengan sangat, kemungkinan muncul sikap antipatinya yang sangat besar terhadap laki-laki. Muncul ketidakpercayaannya kepada laki-laki dan dianggap semua laki-laki di dunia ini sama berengseknya.

Perasaan ini membuatnya tertekan sehingga sadar atau tidak sadar, perempuan telah menempatkan dirinya pada posisi yang membuat dirinya sulit bergerak. Hanya karena satu laki-laki berengsek yang pernah melukai perasaannya, dia menilai laki-laki lain sama berengseknya dan dia enggan kembali menghidupkan kepercayaan itu. Semacam trauma. Sehingga, dia tidak mau lagi membuka pintu hatinya untuk laki-laki lain yang memang berniat baik.

Hal ini sebenarnya sangat bisa dihindari sejak awal bila perempuan memiliki nilai-nilai yang dia pegang dengan tegas. Nilai yang membuat perempuan memiliki posisi tawar yang tinggi. Nilai yang membuat perempuan berani bertindak tegas terhadap laki-laki modus dengan tampang sok baik.

Nilai itu bisa berbeda bagi setiap perempuan. Aku tidak ingin mengatakan bahwa harus nilai agama yang dipegang, karena aku percaya bahwa perempuan_yang membaca tulisan ini_ memiliki pengalaman hidup yang berbeda, yang membuat pilihan diri-pun menjadi berbeda.

Ada teman perempuanku yang memegang teguh nilai agamanya dan tentu tidak akan pernah berpacaran. Seharusnya, dengan nilai yang dia pegang itu, dia bisa bersikap tegas terhadap laki-laki dan tidak mudah diperdaya.

Temanku yang lain memegang nilai-nilai sosial dan etikanya. Meski tidak begitu taat beragama, dia paham betul tentang apa yang dia percayai soal hubungan pernikahan dan sebelumnya. Pada akhirnya, dia mampu menjaga dirinya dengan baik dan bisa benar-benar menghajar laki-laki yang berani macam-macam kepadanya.

Intinya, perempuan harus memiliki nilai yang dia pegang dan percayai. Dengan begitu, dia memiliki landasan sikap dan ketegasan terhadap sesuatu yang datang kepadanya, termasuk kedatangan laki-laki asing dalam hidupnya. Dengan memegang nilai-nilai itu, perempuan akan memiliki titik tolak untuk mengambil sikap.

Terlalu banyak sudah perempuan yang terombang-ambing oleh perasaan yang tidak jelas pijakannya. Seolah hidupnya benar-enar hancur oleh sikap laki-laki yang dia temui dan kemudiam melukainya. Perasaanmu memerlukan pijakan, agar ia bisa berdiri tegak meski badai memporak-porandakan hatimu. Bukan begitu?

Sudahkah kamu temukan pijakanmu, perempuan?

Potongan cerita #HujanMatahari selengkapnya bisa dibaca di buku perdananya:
image

Informasi pemesanan: 085772724343

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

6 responses »

  1. Dyah Sujiati says:

    Kenyataannya, perempuan-perempuan yang KUTEMUI adalah perempuan yang tidak mau menerima pelajaran. Anggapan trauma itu justru sebaliknya. Sekali perempuan ‘disakiti’ dia biasa aja. Justru membuka lagi peluang untuk disakiti. Itu yang kumaksud dengan tidak mau menerima pelajaran.

  2. winnymarch says:

    judulnya menarik ya hujan matahari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s