Image

Jujur, respon pertama ketika saya menulis judul di atas adalah tergelitik tanpa henti. Ada kesan yang membekas saat sahabat saya menulis uraian kata tersebut menjelang akad nikahnya di bulan Dzulhijjah 1433 H. Beliau memang penulis muda yang kreatif. Bahan pemikirannya tentang cita dan cinta selalu diekspresikan dengan kata-kata optimis. Untaian kata-katanya tak pernah luput dari hikmah dan pesan kebaikan. Saya bersyukur telah mengenalinya dan menjadikannya sebagai sahabat pena. Tulisannya tentang “Penulis adalah Mantu Sepanjang Masa” bisa diunduh di sini [link].

Hubungan cinta bersifat halal apabila telah diikrarkan dalam ikatan suci nan mulia, ‘Mitsaqan Ghaliza’. Pernikahan bukanlah ritual atau permainan yang bisa dilakukan siapa saja tanpa aturan yang mengikat di dalamnya. Aturan Islam mengenai pernikahan dijelaskan secara gamblang di surat cinta, Surah An Nuur.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Alloh akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Alloh  Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (QS An Nuur ayat 32)”

Lalu, bagaimana jika kita telah menetapkan hati kepada seseorang namun belum mampu untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan? Perlu adanya target, persiapan dan perencanaan matang dalam menuju keluarga bahagia, sakinah, mawaddah, warrahmah. Surah An Nuur menjelaskan lagi pada ayat berikutnya,

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Alloh memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. (QS An Nuur ayat 33)”

Berpuasa dan berdzikir menjadi menjadi kedua alternatif untuk menekan hawa nafsu serta menyucikan diri dan jiwa. Kadang, perasaan cinta itu terlalu bergejolak berlebihan hingga manusia tak sadar telah masuk ke rayuan syaithan. Manusia yang sedang jatuh cinta kepada seseorang bisa lupa akan segalanya. Bahkan, sampai lupa kehadiran Alloh SWT dalam hatinya. Jika perasaan belum halal itu tumbuh dengan suburnya, maka ingatlah Alloh secepatnya juga. Cinta itu memang fitrah, sejauh mana kita bisa menjaga kefitrahan itu dengan sebaik-baiknya. Silakan memilih mana jalan yang sesuai dengan nurani. Karena nurani itu tak pernah jauh dari nilai kebenaran🙂

Manusia itu memang makhluk yang tak sempurna, namun dalam implemantasinya terlalu banyak menjadikan standar kesempurnaan dalam hidupnya. Hal ini sering dipahami oleh pribadi melankolis. Saya mengakuinya karena pernah merasakan hal yang sama. Kadang merasa bersalah karena belum melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya atau belum sempurna. Kesalahan kecil bisa berubah menjadi besar karena sikap kekhawatiran, tidak bisa memberikan yang terbaik. Pernah suatu hari bersedih karena kecerobohan sikap yang semestinya tidak dilakukan. Ya. Saya tidak mampu membaca perasaan seseorang hingga tak sadar melukainya. Padahal, sesungguhnya saya memiliki jiwa yang sensitif namun sayang pada saat itu tak bisa memahami perasaan orang lain.

Okai, kembali lagi ke topik pembahasan. Dalam pandangan Islam, masalah pernikahan mendapatkan perhatian khusus, terutama dalam memilih pasangan hidup. Aih, kalo berbicara soal kriteria pasangan pasti di antara pembaca sudah ada yang menetapkan standar pokok atau utama. Alasan dalam menetapkan standar adalah pembinaan rumah tangga ke depan yang berdampak kepada keselamatan, kemashalatan, kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini saya anggap SERIUS dan PENTING, sobat semua, karena saya bercermin dari keluarga besar saya. Ada yang pernikahannya bahagia dan ada pula yang merana. Saya jadi belajar banyak dari pengalaman hidup mereka.

Saya mengambil intisari dari artikel muslim.or.id tentang memilih pasangan idaman. Semoga bermanfaat bagi para pembaca, khususnya kepada diri saya pribadi yang masih single🙂

Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut:

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya. Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

 

2. Al Kafa’ah (Sekufu)

Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. (Dinukil dari Panduan Lengkap Nikah, hal. 175). Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kita?

3. Menyenangkan jika dipandang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan 4 ciri wanita sholihah yang salah satunya,

وان نظر إليها سرته

“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang yang hendak dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan melamar seorang wanita Anshar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنظرت إليها قال لا قال فاذهب فانظر إليها فإن في أعين الأنصار شيئا

“Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu.” (HR. Muslim)

 

4. Subur (Mampu Menghasilkan Keturunan)

Di antara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur,

تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih)

Karena alasan ini juga sebagian fuqoha (para pakar fiqih) berpendapat bolehnya fas-khu an nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As Sa’di berkata: “Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten, maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan dibatalkan (oleh penguasa)” (Lihat Manhajus Salikin, Bab ‘Uyub fin Nikah hal. 202)

Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Selain melakukan usaha untuk memilih pasangan, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu do’a yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…”

“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Untuk kriteria khusus memilih calon suami dan isteri, bisa dibaca di artikel muslim.or.id secara langsung [link]. Mengenai pembahasan penulis adalah calon mantu idaman bisa saya uraikan secara singkat saja, yah. Maklum, ilmu dan pemahaman saya mengenai hal ini masih sempit :”)

Bagi saya, menulis itu adalah perkerjaan mulia. Ada sejuta penulis di bumi ini, dan di antaranya best seller. Karya-karyanya membuncah dan mampu menyentuh hati manusia. Saya pun menyukai menulis sebagai kebiasaan yang disukai. Alhamdulillah sekali, jika saya berdampingan dengan imam yang juga seorang penulis. Haha.. Kriteria penulis itu hanya nomor ke sekian, hal yang utama adalah kesholehan. Untuk mendapatkan suami yang sholeh, berarti harus ada kerja keras dalam perbaikan diri. Menjaga hati adalah pilihan yang sulit karena ada unsur keistiqomahan di dalamnya. Maka, memang tak ada kenikmatan yang ditempuh melalui jalan kemalasan dan kemaksiatan.

Ya Rabb, condongkan hati-hati kami dalam ketaatan kepada-Mu, izinkan kami untuk selalu mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, serta mencintai segala amalan yang membuat kami mencintai-Mu..

An Maharani Bluepen

01 Muharram 1434 H

Untuk energi dan semangat cinta yang baru

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

3 responses »

  1. Na'imah Awan says:

    like this pokoe mba……sepakat.,

    apalagi yang ini “Alhamdulillah sekali, jika saya berdampingan dengan imam yang juga seorang penulis.”
    kalopun bukan penulis min bisa nulis sms. he….(sambil tepuk jidat)

    moga dimudahkan mbak ania

  2. membaca artikel ini di masa depan, serasa mengingatkan diri sendiri kembali..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s