Catatan Akhir Tahun Part 2

Kakak Kedua

Sesukses apapun dirimu, pasti tak terlepas dari do’a Ibu. Seperti kacang tak lupa akan kulitnya, seelok apapun seorang anak pasti tak terlepas dari pengorbanan orang tua. Aku membayangkan perjuangan nenekku yang membesarkan Ayahku dengan hebatnya. Peluh keringatnya, rasa cintanya, mungkin tak pernah luntur kepada ayahku karena orang tua satu-satunya. Ayah tak tinggal diam, berkerja sekaligus berkuliah, membantu nenek membiayai sekolah paman. Hingga pada akhirnya mereka sama-sama berkuliah di Institusi ternama di Bandung.

aku, mama, dan keluarga mas Seno

aku, mama, dan keluarga mas Seno (tengah). Dari pojok bawah ke kanan adalah keponakanku; Asfa, Rafa, dan Dafa.

Kini, aku bercermin dari Mas Seno, kakak keduaku yang tinggal di Jakarta. Wajah tampannya berbanding lurus dengan luhur budinya. Ia cerminan anak sholeh yang hadir dalam keluargaku. Ia sangat mencintai Ibuku, dan tak lupakan aku sebagai adiknya yang bungsu. Meski kami terpaut usia enam belas tahun dan berbeda Ayah, ia sangat menyayangiku. Darinya, aku memiliki keponakan yang lucu-lucu. Aih, benar-benar menggemaskan.

Selain mengajarkanku perihal tentang birul walidain, mas Seno juga mengajarkanku tentang kerendahan hati. Sesibuk apapun, ia tetap meluangkan waktu untuk keluarga. Saat itu ia mudik ke Semarang hanya karena ingin menjenguk mama yang sakit. Yap. Saat ini (26/12), ia meluangkan waktu bersama keluarganya untuk menemui kami di Kota Kembang. Bahkan, mas Seno memesan tempat penginapan untuk aku dan mama selama tiga hari ke depan. Hyum. Sebetulnya, ada kakak pertamaku di Bandung, tapi ia malah liburan ke mertuanya di Semarang. Mama cukup kesal dengan hal ini. Alhamdulillah, kekesalannya terobati dengan kehadiran mas Seno berserta keluarganya ke Kota Bandung ini.

Dari Wisata Alam hingga Kuliner

 Aku semakin paham kenapa Bandung disebut Parisnya Pulau Jawa. Fashion dan kuliner bertebaran di mana-mana. Tempat penginapanku kebetulan sangat dekat dengan rumah mode di daerah Ledeng, trus juga wisata kulinernya beraneka rupa (ada batagor, soto Bandung, peuyem, cimol, martabak, rujak, dsb). Bingung mau pilih apa. Dari villa saja sudah disajikan menu-menu istimewa khas kota. Jadinya hari pertama kedatangan cukup berjalan-jalan ke Cihampelas. Rutenya cukup naik sekali angkot (Ledeng-Kalapa). Saat itu tujuanku cuma satu, yakni membeli tas koper. Mumpung masih di pusat perbelanjaan, aku bisa memilih aneka model tas. Aku malah memilih kawasan Cilok, mall terbaru di sana. Hyum, gaya hedonisme mulai tercium di sini. Begitu banyak kawula muda yang berpakaian minim dan memburu diskon akhir tahun.

dunia fashion, kuliner, wisata alam hingga religi ada di sini --> PARIS of Java

dunia fashion, kuliner, wisata alam, history hingga religi ada di sini –> PARIS of Java

Awalnya, aku berjalan-jalan di sekitar daerah kaki lima Cihampelas. Eh, ketemuan juga ma Mr. Bean di Kota Kembang. Ternyata ada toko souvenir khusus yang bernama Mr. Bean. Cuma sayang, Mr. Emonnya ga setampan punyaku di rumah. Jadinya, aku cuma beli ganci khas Bandung yang bergambar Bosscha dan pakaian adat Bandung.

Toko souvenir Mr. Bean di kawasan kaki lima Cihampelas

Toko souvenir Mr. Bean di kawasan kaki lima Cihampelas

“Jika berjodoh, maka akan dipertemukan Alloh Swt.” (status fbku, 27/12)

Syukur Alhamdulillah juga, di pagi yang cerah (27/12) kopdaran langsung bersama sahabat pesbuk, mbak Tuti Wartati. Lagi-lagi, dunia maya menjadi sempit di sini. Beliau datang bersama temen daerahnya di Palembang bernama Gita (akhwat yang juga seorang penulis). Kehadiran guru dan penulis itu menambah memori indah dalam perjalanan ke Bandung kali ini.

kopdar bareng sahabat fesbuk; guru dan penulis :)

kopdar bareng sahabat fesbuk; guru dan penulis🙂

Firasatku untuk berkunjung ke Bosscha menjadi kenyataan. Mas Mul mengajak kami ke Bosscha, tempat planetarium milik ITB yang terletak di daerah Lembang (tak jauh dari Ledeng). Jadi ingat ma film Sherina masa kecil dulu. Lokasi syutingnya ada di sana. Tapi sayang sejuta sayang, ketika kami ke sana usai makan siang (jam 1), ternyata Bosscha sudah tutup. Tempat itu emang tak sembarang orang masuk. Hari libur/ Minggu saja selalu tutup. Itu saja harus registrasi jauh-jauh sebelum hari H. Yap. Tak apalah. Maybe, kesempatan datang ke sana terbuka lebar lagi. Aku pengin ngeliat bintang-bintang langsung lewat teleskop. Pasti romantis rasanya, Yah. ^_^ (gimana ada bintang kalo datangnya siangnya, Neng? Haha)

Ketika didirikan tahun 1923, observatorium Bosscha merupakan kompleks peneropongan paling canggih di bumi selatan. Dari atas bukit, di pinggir Kab. Lembang, Jabar, berdirilah lima teleskop ilmiah - teleskop refraktor ganda berdiameter 60 cm, menjadi yang terbesar. (sumber: IPTEK 100% Indonesia)

Ketika didirikan tahun 1923, observatorium Bosscha merupakan kompleks peneropongan paling canggih di bumi selatan. Dari atas bukit, di pinggir Kab. Lembang, Jabar, berdirilah lima teleskop ilmiah – teleskop refraktor ganda berdiameter 60 cm, menjadi yang terbesar. (sumber: IPTEK 100% Indonesia)

Oh ya, sebelum ke Bosscha, kami berselancar ke Kampung Gajah (tempat wisata yang berhasil menguras kocek masku coz tiket mainnya mahal banget), trus singgah lunch di Rumah Sosis. Nyam-nyam. Tak lupa mampir ke kebun strawberry sambil naik kuda untuk pertama kalinya. Pulang ke penginapan, mobil mas Seno diliputi kabut tebal pegunungan. Wusssh…

@ Kampung Gajah. Jangan berharap ada gajah betulan di sini, cuma nampang nama doank ^_^

@ Kampung Gajah. Jangan berharap ada gajah betulan di sini, cuma nampang nama doank ^_^

Naik kuda? seperti olahraga jantung saja ^_^ Di sinilah ada pelajaran tentang sebuah kepercayaan. Jika kita percaya kuda itu tidak menjatuhkan kita, maka kuda itu akan mempercayai kita. Oh ya, gambar di atas adalah pemandangan kebun strawberry yang sudah habis dipetik

Naik kuda? seperti olahraga jantung saja ^_^ Di sinilah ada pelajaran tentang sebuah kepercayaan. Jika kita percaya kuda itu tidak menjatuhkan kita, maka kuda itu akan mempercayai kita. Oh ya, gambar di atas adalah pemandangan kebun strawberry yang sudah habis dipetik

1001 Kisah di Angkot Umum

Bagi kamu yang sudah terbiasa naek kendaraan pribadi, cobalah sekali-kali naek angkot umum. Rasakan sensasinya, pahami adakah kisah inspirasi yang engkau dapat? Hal sederhana yang bisa ku pelajari semenjak datang dari Garut ke Bandung adalah sebagian besar dari angkotnya adalah perokok berat. Naudzubillah.. Sangat sedikit dari mereka yang menghargai nyawa penumpang dari asap rokok yang mengundang eh, mengandung sejuta racun bagi tubuh. Sopir yang secara gentle tidak merokok di hadapanku (kaum wanita) cuma bisa dihitung dua dari sepuluh sopir yang ku temui dalam perjalanan liburan kali ini. Hyum, geleng-geleng kepala rasanya.

'Green Angkot' sepertinya pantas untuk angkot yang bebas asap rokok ^_^

‘Green Angkot’ sepertinya pantas untuk angkot yang bebas asap rokok ^_^

Pelajaran kedua adalah kemacetan. Seperti kota metropolitan di Jakarta, Bandung tak terlepas dari kemacetan. Padahal, ruas jalan sudah dijadikan satu arah. Tapi, gara-gara lagi, macetnya sulit dikendalikan. Sabar-sabarlah, wahai diriku. Sebentar lagi sampai ke Cibaduyut ^_^. Arah peta yang diberikan kakak tingkatku yang kini kuliah S2 di ITB ku baca sekali lagi. Semoga tak salah jalan. Mulanya aku pengen ke Pasar Baru, tapi karena pengin beli sepatu kerja, aku sempatkan diri bersama mama untuk pergi ke pusat perbelanjaan sepatu di Cibaduyut.

Tahukah, apa yang terjadi saudara-saudara? Aku dan mama salah memilih bus kota. Aku begitu PD-nya masuk ke Bus Damri tanpa bertanya dulu pada kondektur, apakah jurusan Ciubereum lewat Terminal Luwi Panjang. Sebelum terlambat, aku iseng bertanya kepada ibu-ibu tua yang duduk di sebelah. Basa-basi dulu sih, sebelumnya.

“Mau pergi ke mana, Bu?”

“Ke pasar Kosambi. Neng ke mana?”

“Ke Cibaduyut, Bu. Masih jauh lagi, ya, Bu?

“Lho, koq naek bus Damri jurusan ini? Sebaiknya Neng turun oper angkot naek yang jurusan Luwi Panjang. Untungnya belum kelewatan jauh,” jelas Ibu yang membuat denyut nadiku berimpuls cepat. Salah naik bus? Dari menikmati kondisi nyaman di bus berganti haluan menjadi kekhawatiran. Tenang aja, An. Kamu masih bisa kembali ke tempat penginapan, kok. Ini masih di dalam negeri. Belum bisa terbayangkan kalau kamu kesasar di negeri orang, kan? Otakku tersenyum sendiri menikmati kondisi ini.

“Makasi penjelasannya, Bu. Ntar saya bilang ke Kondektur.”

“Ati-ati, ya, Neng.”

Mama yang ketiduran akibat terlelap musik mellow dari bus Damri akhirnya terbangun juga. Seusai pagi hari (28/12) kami panik karena hampir tidak mendapatkan tiket pulang ke Semarang, kini kami panik karena tersesat di jalan. Akhirnya, kami berhasil tiba di Cibaduyut setelah dua kali oper naik angkot.

Pelajaran ketiga yang tak kalah serunya adalah tentang makna ‘pelajaran hidup’ itu sendiri. Sepulang dari Cibaduyut, aku mengamati ada gerombolan anak jalanan di bawah umur yang asyik dan lancar menyanyikan lagu orang dewasa. Aih, harusnya mereka berteman dekat dengan buku dan aktivitas sekolah. Aku semakin mengernyit dahi. Tak cuma di bus damri ini, di angkot-angkot kecil lainnya sering ditemukan anak pengamen yang berusia di bawah umur (maksudku masih unyu-unyu gitu, sekitar di bawah 15 tahun).

Rasa keseyukuranku-pun semakin bertambah. Dulu, masa kecilku disibukkan selalu dengan aktivitas sekolah. Jika untuk menambah uang saku, pas SD aku cukup berjualan kertas binder dengan laba seadanya. Rasanya emang puas sih, bisa memperoleh penghasilan sendiri. Tapi satu hal yang dicatat, hal itu tidak mengganggu kegiatan sekolahku. Bahkan, kebiasaan entrepreneurship ini bertahan sampai aku kuliah semester lima. Bahan jualannya macam-macam, ada jualan gorengan, buku-buku hingga baju.

Mohon dengan hormat kepada pemerintah baru di kota ini. Perhatikan kehidupan rakyat kecil beserta anak-anak jalanan yang seharusnya dipelihara oleh negara. Sebuah janji tentang pendidikan yang layak, kesejahteraan bagi rakyat, dan kesehatan yang terjamin…Semoga ditepati, yah. ^_^

An Maharani Bluepen

31 Des 2012 M – 1 Jan 2013 M

Menjelang pergantian tahun masehi..

*masih berlanjut menulis sampai pagi

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s