Bayangkan ketika Anda sakit gigi, apa yang Anda rasakan? Bagian tubuh lain pasti ikut merasakan; kepala pening, sumsum tulang lain ikut nyeri, bahkan hati ikut frustasi akibat sakit gigi tak kunjung reda. Begitu pula dengan kejadian yang dialami saudara jauh kita di Mesir. Apa yang kita rasakan di tanah air? Saat kita menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal, saudara muslim kita di Mesir dibantai habis-habisan!

Saya sungguh tak habis pikir.. Padahal dalam QS Al Hujurat dijelaskan,

49:10

49:10
 

The believers are but brothers, so make settlement between your brothers. And fear Allah that you may receive mercy.

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Al Hadist
Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Seorang muslim saudara terhadap sesama muslim, tidak menganiayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat, dan siapa yang menutupi aurat seorang muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat. (Bukhari, Muslim).
Abu Musa r.a. berkata : Nabi Saw. bersabda : Seorang mu’min terhadap sesama mu’min bagaikan satu bangunan yang setengahnya menguatkan setengahnya, lalu Nabi Saw. mengeramkan jari-jarinya. (Bukhari, Muslim).
Hari ini mata saya terbuka atas kejadian yang dialami saudara-saudara muslim di Mesir. Sungguh, benar-benar tak berperikemanusiaan jika mengaku muslim namun membantai saudara muslimnya sendiri. Semula saya tak paham atas konflik yang terjadi di Mesir. Bagaimana mungkin, mereka berani membakar masjid, membantai saudaranya sendiri hanya karena ingin merampas kekuasaan? Siapakah dalang dari kudeta militer yang terjadi di sana? Bagaimana nasib Presiden Mursi? Mengapa kita ikut peduli terhadap nasib Mesir? Beribu pertanyaan mengusik batin saya dan baru hari ini saya pahami.

Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia pada 18 November 1946, menjadi bukti kedua negara memiliki hubungan emosional yang kuat serta berpandangan sama tentang hakikat kemerdekaan. Indonesia dan Mesir membuka hubungan diplomatik secara resmi pada tanggal 10 Juni 1947 melalui penandatanganan Perjanjian Persahabatan (Treaty of Friendship and Cordiality) kemudian dilanjutkan dengan pembukaan perwakilan RI di Cairo pada 1949.Sejak menjalin hubungan diplomatik, kedua negara senantiasa menjaga hubungan yang baik dan erat secara politis. Hubungan yang baik dan akrab tersebut ditandai antara lain dengan intensitas kunjungan pejabat antara kedua negara, kesamaan pandangan dalam berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dan koordinasi serta saling dukung dalam pencalonan masing-masing di berbagai organisasi dan forum internasional.*

Menjelang malam kemerdekaan RI, pengalaman ikut munasarah Mesir di hari ini merupakan pengalaman histori yang tak akan terlupakan. Sekitar lima tahun tak turun aksi di tengah jalan, mendengarkan orasi, serta menyuarakan suara-suara nurani. Aksi solidaritas Mesir ini dilakukan serempak pada hari ini, Jum’at (16/08) di Bundaran HI, Jakarta.  Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan aksi solidaritas saat cuti terakhir lebaran kali ini. Mula-mula kami kumpul di depan gerbang Masjid Raya Baiturrahman, kemudian mengelilingi lapangan simpang lima Kota Semarang, dan berakhir di depan tugu Undip Pleburan (depan gedung Pramuka). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian umat muslim di Indonesia terhadap pembantaian yang dilakukan pasukan keamanan kepada massa pro Mursi. Jangan ditanya berapa korban akibat pembantaian ini. Banyak sumber yang menyebutkan;
“Dalam 8 jam, sudah terjadi pembantaian massal. Tak ada satupun orang yang mampu menghentikan pembantaian ini, baik di Mesir maupun di dunia. Lebih dari 2000 orang dibunuh dan 10,000 lainnya luka-luka. Biarkan dunia menyaksikannya!” kata Juru Bicara Ikhwanul Muslimin Gehad El-Haddad

Menurut Departemen Kesehatan, setidaknya 525 orang tewas dalam kekerasan nasional tersebut. Namun sumber-sumber tidak resmi di lapangan sudah memberikan angka jauh di atasnya, bahkan sampai 6000 orang.

Aliansi Nasional untuk Legitimasi menyebutkan bahwa korban di Masjid Rabaa al-Adawiyah saja sudah mencapai 2.600.

Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun…….
SAM_1781
SAM_1783
SAM_1786
SAM_1789
SAM_1796
SAM_1801
Bendera Mesir – Indonesia: hampir memiliki kesamaan warna yang tak terlepas dari paduan warna merah-putih
SAM_1810
doc. An 16/08/2013
Meski ditempa sinar matahari yang sangat terik, beberapa orator menyuarakan aspirasinya dengan lantang. Salah satu yang membuat batin ikut bergetar adalah orasi dari Kang Abik. Sebagai alumnus Universitas Al Azhar, beliau ikut memprihatinkan kondisi Mesir. Saya ikut menyimak dan mendokumentasikan orasi beliau selama dua belas menit (Maaf, videonya tak bisa saya upload di sini karena muatan file besar). Setidaknya ada kata-kata beliau yang saya pahami; mengapa saya berada di sini, mengikuti aksi solidaritas ini, merasa ikut bagian dari umat muslim.
“Kita semua berduka untuk Mesir. Wahai rakyat Indonesia, Wahai Pemimpin Republik Indonesia, Dengarkan baik-baik. Mesir adalah Negara yang pertama kali mengakui kedaulatan republik Indonesia. Bapak-bapak Polisi, dengarkan baik-baik. Pada tanggal 10 November saat Surabaya dibombardir oleh Inggris, ribuan orang Mesir mendemo perilaku tidak manusiawi di Surabaya tersebut. 
Kita Semua berduka, kalau ini terus berlanjut, kerugian dunia dan kerugian dunia Islam luar biasa besarnya.
Wahai seluruh pesantren Indonesia dan seluruh kyai dan ulama, sebagian kitab-kitab yang kalian pelajari itu adalah karya ulama Mesir; Ilmu Nahwu, Ilmu Saraf, Fiqih, sebagian adalah karya ulama-ulama Mesir di Al Azhar. Kalau ini terus berlanjut, dan kita tidak ingin menginginkan itu terjadi, kita benar-benar rugi karena sumber pengetahuan Islam porak-poranda. Maka seluruh tokoh di Indonesia, tunjukkan aksi nyata agar perselisihan di Mesir segera berakhir dan kembali aman.
Setidaknya ada tiga alasan kenapa kita membela Mesir, menolak pembantaian di Mesir:

1)      Karena apa yang terjadi di mesir benar-benar menginjak nilai kemanusiaan. Dan siapa yang dirinya memiliki nurani, harus melakukan sesuatu, paling tidak mendoakan.

2)      Karena apa yang terjadi di Mesir adalah Kudeta dan itu tidak sesuai dengan konstitusi mana-pun.

3)      Kalau memang benar semua menginginkan proses demokrasi, maka lewatilah dengan cara yang benar. Kembalikan kedudukan Mursi sebagai presiden Mesir.

Marah kita karena Allah…kalau ada saudara-saudara kita yang tertindas, kita tidak boleh diam! Kita do’akan semoga Mesir bisa keluar dari permasalahan.. kaum muslimin bisa kembali ibadah dengan tenang.”

[Orasi Kang Abik, 16/08]

Selepas orasi, kami melakukan shalat gaib dan do’a bersama untuk saudara-saudara muslim di Mesir yang telah mati syahid dan berdo’a untuk perjuangan umat muslim di Mesir yang telah tertindas. Semoga mereka segera mendapatkan pertolongan Allah.

Allahummanshur ikhwanalmuslimiina wa mujahiidiina fi misry wa kullii makaan’
#PrayForEgypt #SaveEgypt

Link-link terkait:

Kairo- Kota Mati- Siap Jadi Kuburan Massal: http://islampos.com/kairo-kota-mati-siap-jadi-kuburan-massal-73965/

Aksi Solidaritas untuk Mesir di Bundaran HI: http://islampos.com/lsm-kemanusiaan-indonesia-tuntut-as-sisi-diadili-di-mahkamah-kejahatan-internasional-74119/

Hadist tentang persaudaraan: http://47h1.wordpress.com/2011/10/26/hadits-tentang-persaudaraan/

Sosok Al Sisi – Dalang Kudeta Militer Mesir: http://www.siaga.co/news/2013/07/03/jenderal-al-sisi-dalang-lokal-pemberontakan-the-tamarot/

Mesir dan Kemerdekaan Indonesia: http://historia.co.id/?d=720

*Indonesia-Mesir Punya Hubungan Historis: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=294256

An Maharani Bluepen

16 Agustus 2013 M/ 09 Syawal 1434 H

9 responses »

  1. annur says:

    Allohu Akbar, saudara kita saudara bersama.
    Aku hanya bisa mengirimkan do’a ukhti. Yang terbaik dan lebih baek… suatu bangunan akan kokoh apabila kita saling menguatkan. Kuatkan dengan do’a jika berjauhan. dan tindakan demo tersebut dI iNDONESIA semoga pemerintahan kita juga turut andil bukan cuma cuap2 pura2 panik.
    Allahummanshur ikhwanalmuslimiina wa mujahiidiina fi misry wa kullii makaan’
    #PrayForEgypt #SaveEgypt

  2. Dyah Sujiati says:

    Speachless Mbak, gak bisa komen.
    Setidaknya kita memang harus mengupayakan agar pemerintah bisa membuat kebijakan yang nyata untuk merubah keadaan.

  3. “Bayangkan ketika Anda sakit gigi, apa yang Anda rasakan? Bagian tubuh lain pasti ikut merasakan; kepala pening, sumsum tulang lain ikut nyeri, bahkan hati ikut frustasi akibat sakit gigi tak kunjung reda.” Haha… Sorry, coz agak lebay kalimatnya. Sumsum tulang itu nggak bisa merasakan nyeri kayaknya…😀

    • “Saat kita menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal, saudara muslim kita di Mesir dibantai habis-habisan!”

      Kenapa kita muslim Indonesia harus merasa bersalah karena diberi Allah kemampuan menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal? Kupikir, mereka sebenarnya juga bisa memilih untuk menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal, ketimbang berdemonstrasi dan berakhir dibubarkan aparat secara paksa. Kalau kemudian ada jatuh korban, itu akibat keputusan mereka sendiri karena tidak mau bubar dan tidak mau menerima jalan damai yang ditawarkan.

      Akan ada orang yang menjawab, “Kan mereka berdemonstrasi untuk menegakkan keadilan dan mengembalikan kepemimpinan yang sah berdasarkan demokrasi.” Kupikir lagi, mereka sebenarnya bisa memilih jalan yang lebih kecil mudaratnya, yang lebih baik, tenang, damai, dan aman, ketimbang pengerahan massa besar-besar yang sangat mungkin berpotensi rusuh dan pasti kalau rusuh akan ada yang mati.

      Akan ada orang yang menjawab, “Mereka berdemonstrasi karena tidak ada jalan lain lagi untuk mencapai keinginan mereka.” Aku pikir lagi, apakah keinginan itu sekarang masih pantas untuk diperjuangkan mengingat ratusan orang sudah mati “hanya” karena diperintah untuk berdemo oleh pemimpin-pemimpin mereka? Seandainya pemimpin mereka memerintahkan mereka untuk menahan diri, bersabar, dan berpikir jernih untuk tidak terpancing suasana, kematian yang jadi bencana kemanusiaan sekarang tidak akan terjadi. Sekarang jelas berdemonstrasi dan mati di arena demo tidak memberikan jalan. Apa tidak layak untuk dipikirkan kembali bahwa jalan yang lain itu sebenarnya ada? Berpikirlah ke arah sana.

      Akan ada yang menjawab, “Matinya mereka itu jihad. Demonstrasi mereka itu jihad.” Aku berpikir kita perlu kembali ke makna jihad yang sesungguhnya: berjihad adalah berusaha sungguh-sungguh, berjihad adalah melawan musuh yang nyata, dan berjihad adalah melawan nafsu dan setan (dorongan-dorongan buruk dalam mati. Mereka yang berdemo dan yang mati itu; siapa musuh yang nyata bagi mereka? Pihak militer, yang juga adalah sama beragama Islam seperti mereka? Pihak liberal, yang sebagiannya ada yang beragama Islam? Yang mereka jadikan musuh adalah saudara mereka sendiri, yang tentu lebih dekat hubungan darah dan kebangsaannya ketimbang kita orang Indonesia.

      Sekarang bagi yang berdemo di Indonesia, apa tujuannya? Untuk bersimpati? Menunjukkan kepedulian? Menyatakan dukungan pada salah satu pihak di sana? Membuat muslim-muslim lain yang tidak ikut berdemo, tidak bersimpati, tidak menunjukkan kepedulian, dan tidak menyatakan dukungan pada salah satu pihak merasa bersalah dan berdosa? Aku tidak menafikan bahwa setiap muslim adalah bersaudara, tetapi sering kita menyempitkan makna persaudaraan itu hanya pada mereka yang satu ideologi dengan kita. Di luar itu, mereka bukan saudara kita; mereka kita panggil musuh, mereka antek-antek asing, Amerika, atau Zionis, mereka pengikut taghut. Kita tidak lagi berpikir besar bahwa yang bersaudara itu adalah orang-orang yang mukmin, yang menjadikan Islam agama mereka, Allah Tuhan mereka, dst. betapa pun mereka masih belum sempurna dalam beragama.

      Selanjutnya, kamu hanya menyitir QS Al Hujurat ayat 10? Tidak membaca beberapa ayat yang sebelumnya? Aku akan menuliskannya secara lengkap untukmu, ayat 6-10:

      6) Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik mebawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

      7) Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah Menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan Menjadikan Iman itu indah dalam hatimu dan Menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

      8) sebagai Karunia dan Nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      9) Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali (kepada Perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah Menyukai orang-orang yang berlaku adil.

      10) Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

      Sebelum kita berdemo dan menyatakan keberpihakan, sudahkah kita memeriksa dengan teliti berita-berita yang datang pada kita? Sudahkah kita memeriksa bahwa tindakan kalian itu betul karena keimanan, bukan menuruti kemauan atau nafsu lantaran sentimen tertentu, ideologi, kelompok, pengaruh pemimpin, takut perkataan manusia atau motif-motif lainnya, misalnya mencari simpati publik untuk diri kita sendiri? Sudahkah kita berjihad berusaha mendamaikan mereka yang berperang sebelum melakukan apapun? Sudahkah dalam berusaha mendamaikan mereka yang berperang kita berlaku adil, dan setelah itu tetap berlaku adil? Allah tidak Menyukai orang-orang yang tidak berlaku adil dan tidak mengikuti tuntunan rekonsiliasi konflik dalam Islam tersebut.

      Tidak ada gunanya menyatakan simpati, merasakan kesedihan, merasakan kebencian pada “pembantaian”, melakukan demontrasi. Setelah sampai di rumah tidakkah hanya dirasakan lelah, lalu makan, mandi, dan beristirahat, lalu emosi yang tadi bergelora hilang sudah? Apakah kita puas karena sudah menyatakan simpati, merasakan kesedian, dan mengutarakan kebencian, dan melakukan demonstrasi? Apakah kewajiban kita sebagai muslim dan mukmin jadi gugur setelah berhasil menyatakan, merasakan, dan melakukan itu semua di mana-mana, di jalanan, media sosial, di mana saja? Bagiku belum karena kita belum melakukan yang seharusnya. Jika kita hanya tahu caranya berpihak, tetapi tidak tentang menemukan solusi yang mendamaikan, semua yang kita lakukan sia-sia. Jika kita justru mendukung salah satu, berarti kita ikut menjadi pasukan dari salah satu golongan yang berperang. Kita tidak menyelesaikan masalah, justru menjadi bagian dari masalah. Kita perlu memperbaiki diri kita dulu jika mau menjadi bagian dari orang-orang yang memberikan solusi. Lain ceritanya jika kita berdemonstrasi untuk menawarkan kepada pemerintah kita tentang solusi mendamaikan Mesir.

      Akan ada di antara pembaca tulisan ini yang menjawab, “Kami tidak punya kemampuan untuk itu, untuk memikirkan itu.” Tidak ada kewajiban untuk kalian memikirkan itu, tetapi ada orang yang wajib melakukan itu, yaitu kalian pemimpin-pemimpin kalian. Akan ada yang menjawab, “Pemimpin kamu belum melakukan itu.” Kewajiban kalian adalah mengingatkan dan mendorong mereka untuk berpikir dan jangan mau disuruh berdemonstrasi tanpa tujuan dan manfaat yang nyata. Atau kewajiban kalian adalah mengganti pemimpin kalian yang tidak mampu bergerak ke arah perbaikan dengan mereka yang lebih cinta pada keimanan dan membenci kekafiran dalam beragama. Pemimpin yang tidak bisa melihat jauh ke depan adalah pemimpin yang tidak berguna. Hati-hati, jika tetap berada di belakang orang yang seperti itu, itu berarti kita sedang menganiaya diri sendiri. Semoga tidak di hari kiamat kita menjadi orang yang menyesal dan berkata:

      “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada rasul.” Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.”

      QS Al-Ahzab 33: 66-68

      Maaf, panjang sekali, Ania. Kalau kamu tidak suka, boleh kamu buang komentarku ini. Peace!😀

      • Maaf juga, Tina. Sepertinya kamu memandang negatif dari aksi demo yang kami lakukan.

        Kamu ga bisa menilai hati dari setiap orang karena kebenaran itu hanya milik Allah.

        Saat mengetahui saudara muslim kita tertindas, hati nurani kita mau diletakkan di mana?
        Saat mereka diadu domba oleh pihak-pihak yang membenci Islam, apa yang harus kita lakukan? Apakah cukup berdiam diri saja, bersikap acuh tak acuh?

        Saya memang bukan siapa-siapa. Usaha terkecil saya adalah dengan mendo’akan mereka supaya persaudaraan antar muslim tetap terjaga.

        Ok. Jazakillah khair masukannya.

      • Kamu memandang dirimu bukan siapa-siapa? Menurutmu, doa adalah usaha terkecil?

  4. […] baru saja membaca sebuah tulisan, lagi-lagi tentang Mesir, di blog seorang sahabatku. Bisa dibaca di sini. Ia menulis tentang aktivitas demonstrasi yang dilakukan beberapa waktu yang lalu di beberapa […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s