Kekuatan itu berasal dari hati yang ikhlas. Berani menghadapi kenyataan. Percaya bahwa Allah pasti memberikan hikmah di balik musibah. Termasuk soal kematian. Kiamat kecil yang selalu menjadi misteri bagi manusia. Bekal akhirat apa yang sudah kita persiapkan selama ini?

Kematian bukanlah terminal akhir dari sebuah kehidupan. Kita masih menunggu ‘kapan kita sudah pantas menemui Rabb yang mulia?’ Itu-pun melewati penantian panjang. Ya. Panggilan dari Allah Yang Maha Kuasa tak seorang-pun mengetahuinya. Namun, sebenarnya panggilan Allah selalu terdengar saat adzan berkumandang. Apakah kita selalu bersegera dan bergerak dalam mendirikan shalat? Begitu pula soal haji, jika kita sudah merasa mampu, apakah ada keinginan untuk mengunjungi Baitullah? Menyeru panggilan Allah? Atau justru mendapatkan panggilan Allah dari arah yang tidak disangka-sangka? Meninggal khusnul khotimah; sebelum, saat, dan sesudah perjalanan haji.

Peristiwa meninggalnya Ayah dari Rakhma membawa hikmah tersendiri bagiku. Oh ya, perkenalkan, Rakhma itu rekan kampusku, Pengajar Muda V di Riau, guru dari sahabat penaku. Ayahnya meninggal seusai melaksanakan ibadah umroh bersama isterinya. Sebelum berangkat umroh, kondisi kesehatan Ayah Rakhma sehat-sehat saja. Namun pada waktu kepulangan hari Sabtu kemarin (01/03), kondisi beliau drop dan langsung dirawat di RSUP Kariadi. Rakhma yang mendengar berita itu di Jakarta (mendapatkan panggilan interview kerja) langsung memutuskan pulang ke Semarang. Ayah Rakhma dirawat di ruang isolasi sampai hari Rabu (05/03) dengan diagnosa terkena infeksi paru-paru. Masya Allah, Rakhma dan keluarganya benar-benar kuat saat menerima fakta bahwa Ayahnya kembali ke rahmatullah Rabu jam 7 malam.

Rakhma anak kedua dari tiga bersaudara, semua perempuan. Tak ada air mata yang menetes dari mereka saat saya melayat. Mereka menyatakan ikhlas atas kepergian Ayahanda.
Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun

image

ucapan belasungkawa dari Pengajar Muda V

Perasaan saya hari ini bercampur aduk, antara terharu dan bahagia. Di hari ini (06/03), saya mendapatkan surat balasan dari murid-murid Rakhma. Rakhma barusan saja menyelesaikan amanah mengajar 14 bulan di desa Kadur, pulau Rupat, prov. Riau pada Januari lalu.

Ayah Rakhma adalah seorang guru SD yang memiliki dedikasi luar biasa. Mungkin hal inilah yang menginspirasi Rakhma terjun di program Indonesia Mengajar. Ibu Rakhma adalah wanita pedagang tangguh di pusat pasar Kota Semarang. Darah ‘entrepreneurship’ sang Bunda sepertinya mengalir di tubuh Rakhma. Rakhma membuka lapak produk makanan sehat, salah satunya adalah mie organik tanpa MSG dan bahan pengawet. Padahal, sebelum keberangkatan umroh ortunya, saya sempat bertransaksi dengan Rakhma mengenai produk mie organik tersebut.

Rakhma tidak menyesali keberangkatan umroh ortunya. Ia justru bersyukur bahwa Ayahnya meninggal dengan proses mulia. Ayahnya berkesempatan menunaikan umroh bersama Ibunda tercinta di tahun ini. Ibu Rakhma sempat menangis, bukan karena kematian tersebut, melainkan banyak orang yang mendo’akannya.

”Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu,”

artinya : “Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan  dan ma’afkanlah dia“.

Turut berduka cita,
An Maharani Bluepen

About An Maharani Bluepen

Penyuka biru langit dan purnama. Ingin menjadi seorang Ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak :)

4 responses »

  1. Dyah Sujiati says:

    Sikap Rahma memaknai kepergian ayahanda sangat perlu dicontoh.

  2. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s